melankolia kesengitan
November 3, 2009
sudah tak ada yang memikirkan bulan bintang
selain pemimpi cinta, selain penyair dan wanita
di dunia indah ini cuma bersemi materi-materinya:
kenyataan abu-abu, rambut, taman di otak
serupa fantasi jalang
yang tergesa memaparkan rindu
yang tergesa mendamaikan duka
oh, waktu yang semacam arena tarung
takjubkan dunia dengan laju emosi
dengan hal-hal yang setengah pergi-setengah datang
sebab kami adalah dua hal bertolak belakang
sebab tak ada kebusukan di antara kami
sebab rindu pun tak bisa kami larung
duhai segala romantisme, duhai segala cinta
mungkinkah rindu kami terlalu suci
hingga tak satu ruang dunia membagi cerita
hingga ruang kami sesak caci maki;
penuh jengah
laut lepas
August 1, 2009
berlayarlah,
air laut akan membawa
badan dan langkah
menghilang
jadilah angin,
membawa perih dalam
pusaran laut
membawa senja makin jauh
teruslah jadi pelayar
mata kami yang basah
Rumah yang jenuh
July 27, 2009
aku menangisimu sebab ciumanmu
begitu beku saat cuaca dingin
oleh isyarat dan makian
sedang bersamamu, aku ingin di kasur
masuklah sedalam mungkin ke rumah
jelajahi tong sampah dan tumpukan cucian
mungkinkah kau bisa dengar getir
getir sentimentil yang terlalu berisik
kutaruh jengkel kita di ruang TV
untuk kita bayangkan sebagai anak kita kelak
bungkus diriku dan telanjangi jalangku
bukankah sudah tertumpuk rindu kita
oleh kotoran kota di luar sana. kemarilah
hentikan setiap air mata dan lupakan arah
buatkan aku duniamu dan kubuatkan kau teh
untuk emosimu. lalu tidurkan cinta ini untuk dunia
Surat cinta
July 27, 2009
setiap pagi dan sore, udara membawa kabar
sempurnanya jarak antara kita dan akhirat
maka pejamkan hatimu untuk rindu
lalu terbanglah membawa beban hidup
untuk sekedar tahu kalimat-kalimat mana
yang perlu kita hafal di depan ayah-ibu
Gumam #2
July 27, 2009
aku tidak merindukan rumah yang kau pugar
hanya aku butuh musim lebaran di hatimu
dan garis lintasan sajak
sebab kau tahu kenapa rindu itu bisu
Gumam #1
July 2, 2009
segeralah berikan suaramu di kupingku
sebab badan sudah perih dengan sajak
Siklus
June 26, 2009
seandainya hujan menjadikanmu lembut
seperti langkah-langkah air ke sungai
seperti payudaramu yang tak besar-kecil
aku tinggal membenahi rindu di cintamu
seandainya jendela menyinarimu dengan senja
tak ada retak-retak atau kecemasan dalam kamar
atau pikiran bagaimana mesti hidup bahagia
tentu sudah kusudahi tubuhmu yang membentuk malam
seandainya bulan sabit adalah bahan tertawa kita yang baru
dengan segera kutemui kejujuran, dengan suara ibu
aku yakin memilih siapa saja yang masuk percakapan kita
untuk mengurai masa depan dan membantu membangun rumah
seandainya bintang benar bersinar di wajahmu
segala tempat dan halaman hanya tahu tentang kenangan
dan bunga mawar di sekitar bandara menyebut-nyebut waktu
sebagai prosa sebelum kita rayakan perpisahan
Silsilah kesalahan
June 14, 2009
I/
aku rindu membawakan sekantong kado
yang dipenuhi tubuhmu. sedang pagi yang tak hancur
menanar ingatan untuk sekedar menjadikanku tumbal
(dan tak ada hari tanpamu di sana)
tentu di bayanganmu aku menggambar-gambar
bentuk hati dan celengan kerbau
sambil mengemas ucapan musim
di depan jendela
II/
andai kau masih cemas tentang jumlah selimut
yang kita lipat dengan sekarat
sudah kusiapkan gemerincing malam
yang menasbihkan kepergian dengan bau melati
di sepanjang kesunyianmu pun sudah ada ruang
yang akan terus mensucikan tubuhmu
sebab semacam hujan, jarak adalah kesalahan Tuhan
yang terus-menerus kita anggap indah
Melankoli St. Anna
June 14, 2009
Santa anna, bunda pengasih, aku datang dengan sekantong uang
untuk ekaristi yang kuminta darimu
untuk senja dan dingin kipas angin
untuk kopi dan pandangan riuh
untuk kasih yang menjebak
Santa anna, aku datang dengan sekantong cerita
sekerat roti dan lapangan parkir
dan bayangan bulan malam gentar
menuju mimpimu
sebab usia kami belah setahun lalu.
Dan tak mungkin kami catat di KUA
Abu-abu
May 9, 2009
Kenapa aku selalu terbayang kau meniduri seluruh gelisah. hingga kau pernah menelantarkan isyarat dan dosa-dosa di dalam payudara.
Kenapa setelah kesakitan dan beragam endapan, tak pernah kau henti ia melihat senggama hujan. di dunia yang belum disebut dalam sajak, bukankah mimpi semacam rumah yang penuh khianat.
Kenapa suara ibu dan hingar kampung sempat melintang ruang. sedang tak pernah kau gagap meritus nafsu dan karat tusukan.
Kenapa waktu kau anggap pintu. di baringan malam dulu kita menegang takut sebab pertemuan melarung isi kehilangan. kutahu kau meniscayakan rindu maupun tubuh yang menumbuh reruntuhan. kenapa waktu kau anggap pintu.