kontroversi sinetron

November 29, 2006

Artikel pendapat pertama :

Saya sangat khawatir dengan perkembangan "Isalam Belatung" yang cukup pesat sekarang ini. yang saya maksud dengan islam belatung adalah Isalam yang digambarkan melalui cerita teror horor seperti "belatung keluar dari mulut si fulan karena melakukan dosa anu" atau "kuburan tak mau menerima jasad si fulan karena melakukan dosa anu" dan cerit cerita semacamnya.
Maaf jika istilah saya untuk menggambarkan Islam yang diosampaikan dengan cara itu cukup kasar, sebab saya kira cerita cerita demikian sesungguhnya dusta dan hanya menodai kesucian dan kemurnian isalm yang sejati. cerita ceita itu sekedar sampah yang karena ketidaktahuan umat islam, kemudian menjadi seolah olah kisah agung yang wajib diketahui semua muslim yang saleh

Sekitar 2-3 tahun yang lalu, saya masih ingat persis seorang teman yang juga alumni HMI Bogorpernah bercerita kepada saya. Dia waktu itu reporter majalah GATRAdan sedang ditugaskan untuk menginvestigasi majalah hidayah-intisari islam, sebab majalah iti dianggap fenomenal. Dalam arti, oplahnya besarmeskipun usianya relatifbaru bebebrapa tahun.

Ketika datang ke kantor majalah HIdayah, ia sempat kebingungan karenatempat yang didatangi ternyata kantor tabloid Pop, tabloid porno. Hmapir balik lagi karena menyangka salah alamat, ia tanya orang orangdi temapt itu, ealah…ternyata kantor hidayah letaknya juga di temapt yang sama. Ia penasaran, mengapa tabloid dari ‘aliran’ berbeda bisa menempati kantor yang sama, selidik punya selidik, ternyata penerbit keduanya sama, yaitu PT Varia Pop Nusantara.
Setelah mendengar cerita dia, saya dengan melihat nama penerbit pada majalah dan tabloid tersebut. Astagfirullahh….ternyata sama PT Varia Pop Nusantara.silahkan teman teman juga cek langsung

Teman saya juga sempat bertanya pada Pimred HIdayah waktu itu, apakahcerita yang ditampilkan dalam hidayah benar adanya. Dijawab, bahwa cerita cerita itu diperoleh reporter Hidayah dari masyarakat. Benar tidaknya, wallahu allam.

Kesimpulan saya:
1. Karena penerbitnya sama, sebenarnya tujuan Hidayah dan Pop juga sama,yakni, mencari untung sebesar2nya.
Bedanya, Pop membidik pasar pria2 mesum, sedangkan Hidayah mentargetkan pasar kaum muslim kebanyakan.
Saya tidak tahu seberapa besar jumlah pria mesum yang suka Pop.
Tetapi, jumlah kaum muslim yang bisa dipikat dengan cerita2 horor yang ditampilkan Hidayah,saya yakin sangat banyak.
Terbukti,Hidayah dibeli banyak orang.

2. Strategi yang digunakan penerbit tsb adalah "mengalalkan segala cara". Porno atau ‘Islami’, selama itu menguntungkan, sikat teruss…

3.

Ada

kemungkinan, keuntungan dari Hidayah digunakan untuk mensubsidi Pop.
(Pop butuh subsidi karena kalah bersaing dengan media porno sejenis, menurut info seorang teman yang lain).
Jadi kalau kita beli Hidayah, sama saja mensupport Pop.
4. Asumsi saya, siapapun di balik majalah Pop adalah manusia bejat moral.
Tidak logis jika manusia semacam itu, melalui majalah Hidayah-nya, punya niat baik untuk mendakwahkan Islam yang benar.
5. Majalah Hidayah adalah majalah tipu2 dan menyesatkan umat Islam.
Demikian pula majalah sejenis yang akhir2 ini bermunculan.
Saya bertanya-tanya, apakah kyai2 kita tidak tahu hal ini? Dalam rubrik
konsultasi majalah Hidayah, salah satu pengisinya adalah Kyai Ali Yafie, kyai sepuh yang tak diragukan lagi kualitas keilmuannya terutama dalam bidang ilmu fiqih.
(Dalam versi Hidayah sekarang, juga ada Ust Arifin Ilham ulama2 lain yang cukup terkenal).
Saya tidak pernah mendengar Nabi mengajarkan Islam dengan cerita2 horor. Kalaupun ada dalam Quran hanyalahcerita2 tentang neraka, tak lebih dari itu.
Islam yang disampaikan Nabi adalah Islam yang penuh hikmah dan mauidzah

Artikel pendapat kedua :

HIDAYAH BUKAN SAUDARA TABLOID POP

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Semula
saya agak kaget melihat email serta milis yang isinya sangat
menyudutkan majalah Hidayah, dimana saya kerja di media tersebut.
Bagaimana tidak, Hidayah yang selama ini lekat dengan pembaca sebagai
majalah yang sejuk, membimbing orang untuk belajar agama, dicap sebagai
majalah yang mengusung jargon Islam Belatung, majalah yang menyajikan
cerita-cerita horor yang patut dipertanyakan kebenarannya, majalah yang
mengejar profit besar dengan menghalalkan segala cara yakni menjual
nama agama meski dengan cerita-ceritra sampah sampai majalah yang
bersaudara dengan Tabloid Pop (Tabloid Porno).

Namun setelah saya cermati, informasi miring tersebut tampaknya sekedar
sensasi belaka, bualan semata yang menjurus pada fitnah. Entah didasari
apa sehingga pelempar bola panas tersebut berani mengatakan sesuatu
yang sebenarnya sangat tidak diketahuinya, tidak sesuai dengan fakta
yang sesungguhnya serta pemahaman yang serampangan. Apakah ada motif
ingin menjatuhkan citra Hidayah di depan khalayak melalui black
campaign (kampanye hitam) dengan seolah-olah mengatakan bahwa apa yang
ditulisnya benar-benar merupakan investigasi yang dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik ataukah ada motif-motif lainnya.

Maklumlah,
menurut hasil riset NMR (Nielsen Media Research) kuartal pertama 2006,
di sembilan kota besar tercatat majalah Hidayah adalah majalah yang
paling banyak dibaca (menempati rangking pertama) di antara 10 majalah
lain, baru disusul majalah GADIS, BOBO, ANEKA YESS!, KARTINI, ETNIX,
SABILI, TEMPO, MISTERI dan INTISARI. Dari sekitar 40 juta pembaca yang
disurvei NMR (usia 10 tahun ke atas), sekitar 4,9% di antaranya memilih
Hidayah sebagai bacaan mereka. Pembaca Hidayah jauh melampaui pembaca
majalah-majalah lain, sementara peringkat kedua yaitu GADIS hanya
meraup 1,81%, dan majalah Intisari yang berada di peringkat sepuluh
meraup 0,64% (lihat Majalah Cakram Fokus edisi 6/2006).

Melihat
perjalanan Hidayah yang baru berumur 5 tahun namun hasilnya cukup
fenomenal, maka tak mengherankan hantaman melalui isu-isu murahan dan
tidak dapat dipertanggungjawabkan, pun coba dihembuskan oleh
oknum-oknum yang sentimen terhadap Hidayah. Kata orang, semakin di atas
semakin kencang angin bergoyang, mungkin ada benarnya. Kondisi itulah
yang kini dihadapi Hidayah.

Saya melihat, banyak hal yang sengaja
dilencengkan dan diplintar-plintir oleh pembawa informasi miring
tersebut dari fakta yang sesungguhnya.

Pertama, penulis (penebar
informasi tak jelas tersebut) kurang memahami isi majalah Hidayah.
Sebab bila ia paham betul, ia tidak akan menyimpulkan bahwa Hidayah
mengusung Islam Belatung. Ia ingin memberi label itu karena melihat
cover Hidayah yang seram-seram dan ada keterkaitan dengan azab yang
diterima seseorang menjelang/sesudah meninggal dunia karena amal
perbuatan buruknya sewaktu di dunia, ditambah lagi dengan tayangan
televisi yang marak dengan sinetron dengan tema yang hampir serupa
dengan Hidayah.

Padahal sejatinya, cerita yang dimaksudkan itu
bagian kecil dari seluruh isi majalah Hidayah. Porsi untuk
cerita-cerita yang baik (husnul khatimah) yang sama-sama bisa diambil
iktibarnya juga cukup banyak. Belum lagi rubrik-rubrik lain yang sangat
disenangi pembaca. Seperti: Kisah Kitab (rujukannya pada kitab-kitab
klasik yang memuat kisah-kisah yang patut direnungi), Kisah Qur’an
(kisah yang tidak asing lagi yang diinukilkan dari ayat-ayat al-Qur’an
dan kitab-kitab tafsir), profil dai (menampilkan dai-dai yang sudah
malang melintang di tanah air), tokoh-tokoh Islam, Syiar (lembaga Islam
yang lebih mengedepankan pengembangan keislaman), serta artikel-artikel
keagamaan yang diminati banyak orang.

Dan sejak sinetron-sinetron
yang hampir sama dengan Hidayah menjamur di berbagai tayangan televisi
yang keluar pakem dari Hidayah, dengan penyajian dan penggarapan yang
justru bisa membuat citra kurang baik, Hidayah Indonesia sudah sejak
lama menarik diri dari peredaran di televisi.

Dengan mengacu hal
di atas, maka penilaian Hidayah yang dipersepsikan Islam Belatung
adalah penilaian yang sangat cetek. Dan tampaknya sang penebar
informasi miring tersebut menyimpulkan berdasar kekurangpahamannya
terhadap Hidayah, ia hanya mengetahui kulit luarnya saja tanpa memahami
isi-isinya.

Kedua, rujukan yang digunakan sang penebar isu
tersebut layak dipertanyakan kebenarannya. Darimana informasi didapat,
benarkah dari salah seorang reporter GATRA, ataukah hanya alasan yang
digunakan untuk menjustifikasi dugaannya. Saya menangkap bahwa apa yang
dituduhkan ini hanya berdasarkan “katanya” bukan dari investigasi yang
benar-benar. Nah, jika rujukan tersebut bersifat “katanya” karena bukan
berasal dari rujukan primer, bagaimana mungkin orang bisa mempercayai
kebenaran tulisan tersebut. Dalam ilmu mushtalahul hadits, sanadnya
(penyampai berita) mungkin tidak tsiqah (kurang bisa dipercaya) hingga
orang yang meriwayatkan pun (rawi) akhirnya asal-asalan. Maka berita
itu pun dianggap dhaif (lemah), dan karena kedhaifannya, maka berita
tersebut tidak bisa dijadikan rujukan.

Oleh karena itu, orang
patut curiga maksud si penulis berita. Benarkah, mengada-ada atau ada
maksud kurang baik. Dalam etika jurnalistik, hal semacam ini tidak bisa
dipertanggungjawabkan secara akademik.

Ketiga, ia benar-benar
tidak tahu atau hanya mengarang. Sebab Perusahaan yang menerbitkan
majalah Hidayah bukanlah PT VARIA POP NUSANTARA melainkan yang benar
adalah PT VARIAPOP GROUP. Sangat berbeda sekali. Dan media-media yang
berada di bawah naungan bendera PT VARIAPOP GROUP adalah MAJALAH
HIDAYAH (Sebuah Intisari Islam), PARAS (Wanita Islam), MUSLIMAH (Trend
Remaja Islam), ANGGUN (Pengantin Islam), VARIASARI, DIDIK (Anak Islam),
CHEF (masakan) serta BERITA INDONESIA yang khusus diedarkan di
Malaysia. Jadi, TABLOID POP tidak ada di dalamnya. Dengan kata lain,
jika seseorang menyandingkan atau bahkan menganggap bahwa majalah
HIDAYAH saudara sekandung dengan TABLOID POP yang konon katanya media
porno alias esek-esek, maka penilaian tersebut SALAH BESAR dan sangat
tidak berdasar.

Keempat, Pak Kyai Ali Yafie tentu bisa menilai
tentang isi dan misi majalah HIDAYAH sebelum menjatuhkan sepakat untuk
menjadi penanggung jawab rubrik Konsultasi Fiqh. Saya yakin, beliau
tidak akan mau mengasuh rubrik ini jika kenyataannya HIDAYAH punya
saudara media yang hanya mengumbar syahwat, TABLOID POP. Kalau pun tahu
belakangan, beliau akan segera menyetop rubrik asuhannya. Tapi
kenyataannya tidak demikian kan. Beliau tetap mengawal majalah Hidayah
sebagai pengasuh rubrik konsultasi fiqh sudah lebih dari 33 edisi
(hampir 3 tahun). Dan alhamdulillah hingga kini beliau masih setia
menerima kedatangan saya tiap sebulan sekali, saat hendak
mewawancarainya (dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari pembaca)
yang akan dimuat di rubrik konsultasi fiqh.

Demikianlah beberapa
hal yang perlu diluruskan atas berita yang tidak mengenakkan ini. Jika
penasaran, silahkan konfirmasi kebenarannya secara langsung ke redaksi
Hidayah. Kepada penebar berita miring ini, kalau Anda punya nyali,
silahkan datang ke kantor Redaksi HIDAYAH atau Perusahaan yang
menerbitkan HIDAYAH. Kita bicara blak-blakan sejauhmana tuduhan Anda
benar.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Herry M (staf redaksi HIDAYAH)

Redaksi HIDAYAH telp. (021 84935417) , Herry Munhanif" *munhanif@yahoo.com

Leave a Reply