Kosong

November 14, 2006

Lalu pekuburan menjadi surga
Saat melati kehilangan wangi
Saat mawar mulai menguning
Atau saat nada berdiri sendiri; tak berlagu

Ketika pekuburan menjadi surga
Cinta hanya dibatasi pagar hijau berkarat
atau cinta hanya dialasi tanah kering tanpa rumput hijau
Saat itu sangat membiarkan aliran makna berjalan,
berjalan terus seperti garam yang harus setia pada lautan

Ketika pekuburan menjadi surga
Sudah waktunya bagi kita melantunkan air mata
Mengheningkan eksistensi kita
Menzikirkan kesalahan kesalahan kita
Mengikat seluruh cinta kita
Atau mungkin hanya menghitung berapa banyak kembang di pusara kita,
sebuah tanda sudah berapa orang yang mencintai kita.

3 Responses to “Kosong”

  1.   Evy said:

    berapa banyak ya org yang mencintaiku… ???
    klo aku mati apa kau akan mengirim kembang/menangis untuk ku ?
    karena kau mencintaiku
    wakakakak

    (becanda)

  2.   minthoel said:

    kenapa harus saat pekuburan menjadi surga?
    tertutupkah mata kita saat kita belum menjadi penghuninya?
    tertutupkah hati kita saat kita belum berada di dalamnya?
    sampai-sampai kita baru bisa merasa ada orang yang mencinta kita setelah pagar hijau berkarat menjadi penghalang…
    betapa naifnya…

  3.   C-yAkUw said:

    berapa banyak air mata yang kau pinta?
    berapa banyak hati yang kan terdera?
    aku masih disini… setia menemanimu sahabatku….

Leave a Reply