Makna eksistensi diri kita (lanjutan kisah anak ITS yang gagal bercinta)
November 25, 2006
Makna ( Sinn ) didefinisikan oleh Schmidt (emboh sopo schmidt kuwi,onok seng ngerti ora? ) sebagai isi kecocokan teoritis-praktis, kontekstual-multidimensional, yang dapat diberi pendasaran akhir refleksif.
Manusia tidak dapat melakukan sesuatu apapun kalau tidak bermakna baginya. Dari makna suatu perbuatan kita akhirnya dibawa ke pertanyaan tentang makna eksisitensi kita sendiri. Tentu saja kebermaknaan hidup tidak bisa dibuktikan "hitam-putih".
Pendefinisian ( pendefinisian ini masih bersifat "menghasta kain sarung" ) :
Makna adalah suatu kondisi menyangkut kecocokan secara menyeluruh, antara subjek ( subjek disini sebagai pemberi sekaligus penerima ) dan objek. Suatu objek dikatakan bermakna jika secara lebih jauh memiliki " kecocokan" dan menunjuk pada subjek. ‘Makna’ memiliki maksud yang lebih jauh dari ‘arti’. ‘Arti’ hanya menunjuk pada segi pengertian, secara objektif, apa adanya suatu objek yang sedang diamati (walaupun sebenarnya dalam pengamatan objek, unsur ‘makna’ tidak bisa lepas dari tindakan pengamatan ). Sedangkan ‘makna’ berjalan lebih jauh dari itu, menunjuk pada segi subjektif, berdasarkan pengamat.
Manusia tidak dapat melakukan sesuatu, maupun mengerti sesuatu, apabila sesuatu itu tidak bermakna baginya. Bertindak berarti melakukan sesuatu demi suatu tujuan, dan sesuatu hanya bisa menjadi tujuan apabila mempunyai arti atau bermakna. Adalah makna tujuan yang menjadi alasan kita bertindak.
Berikutnya, makna yang melekat pada sesuatu (objek) selalu diterimanya (objek) dari sesuatu yang lebih luas. Contohnya, puasa ramadhan dianggap bermakna apabila beragama islam sendiri bermakna bagi subjek yang menjalankan. Dalam hal ini setiap makna tidak berhenti pada objek itu sendiri, melainkan menunjuk pada sesuatu yang lebih jauh daripadanya ia menerima maknanya.
Kembali ke unsur manusia yang memberikan makna terhadap suatu objek. Manusia tidak dapat memaknai sesuatu apabila ia tidak mengalami eksistensinya sendiri sebagai bermakna. Tindakan kita masing masing hanya mempunyai makna apabila keseluruhan daripadanya tindakan tindakan itu menjadi bagianya, artinya hidup kita sebagai keseluruhan mempunyai makna (Weissmahr). Maka tindakan tindakan kita selama ini selalu menyentuh pada pertanyaan tentang makna hidup kita.
( ga sepiro mumet kan???biasa wae…nyante jee….!! )
Si anak ITS yang bunuh diri ini pun menyadari ( entah secara langsung ato tak langsung ) bahwa dirinya, dia dalam artian personal, mengalami nir-makna bagi lingkunganya. Bunuh diri merupakan satu bentuk paling ekstrem dari seseorang yang mengalami nir-makna. Dia meragukan makna eksistensinya sendiri. Ketika mengalami sensasi nir-makna, dia merasakan ketidakcocokan dari segala sudut kehidupan di lingkunganya. "Ketidakcocokan" dalam artian dia sudah mengalami kehilangan dasar tentang diri sendiri, tidak merasakan ketentraman di rohani ( hati, emosi, perasaan ).
Berdasarkan pengertian Weissmahr, ketika individu mengalami nir-makna, maka ia kehilangan sesuatu yang "memenuhi" kita, sesuatu yang memenuhi dan sesuai dengan kebutuhan kebutuhan vital, rohani, personal kita; kehilangan sesuatu yang memenuhi kerinduan kita akan pengakuan, keterlindunagn, kebersatuan, yang karenanya kita merasa diri baik, yang membuat kita sanggup untuk menerima lingkungan kita , nasib kita, akhirnya diri kita sendiri seluruhnya.
Dalam hidup sehari hari, pengalaman yang dapat memberikan rasa aman dan bahagia, yang bisa membuat hidup kita terasa bermakna adalah adanya manusia ( personal indivual dan atau kumpulan personal ) yang meng-iya-kan dan mencintai kita. Dengan kata lain: ‘Kalau eksistensi-kita kita alami sebagai bermakana hal itu hanya mungkin karena kita mengalami bahwa kita diliputi oleh cinta yang tidak bersyarat, yang meng-iya-kan kita dengan mutlak, yang tidak tergeser oleh segala kegagalan dan keburukan kita, dan yang mengatasi segala kegagalan dan keterbatasan kita.’ Bahasa lebih lainya lagi: ‘Kita menyadari eksistensi kita bermakna karena kita mengalaminya sebagai anugrah yang mengalir dari cinta YANG PERSONAL MUTLAK yang memperhatikan, meminati, meng-iya-kan kita, tanpa syarat apapun.’
Yang menjadi permasalahan ( ini menurutku lho yaa….ga ngerti menurut kalian ) adalah REALITAS PERSONAL MUTLAK yang mengalirkan cinta dan anugrah yang salah diartikan oleh anak ITS ini ( pada alam bawah sadarnya; pada rohaninya ). Bagi anak ITS ini REALITAS PERSONAL MUTLAK adalah 2 ceweknya dan lingkunganya ( baik lingkungan yang terkena dampak langsung ato tidak langsung dari semua perbuatan anak ITS ini )
Pada satu saat suatu objek yang tidak mutlak ( manusia dan lingkunganya )dinyatakan sebagai realitas personal mutlak. Tetapi pada saat lain dia menyadari manusia dan lingkunganya hanya realitas tidak mutlak, dan pada saat ini pun dia juga menyadari adanya realitas personal mutlak; sesuatu yang lebih dari manusia dan lingkunganya. Kebimbangan atau rasa ambigu yang ada di jiwa, alam bawah sadar, rohani anak ini bersifat labil dan memiliki dampak yang sangat kuat ( seperti gunung merapinya mbah marijan ). Hasil dari kebimbangan dan ambigu ini ya itu tadi….bunuh diri….
bersambung….to be continued…masi berusaha mencari kalimat yang tepat dan jelas…
Leave a Reply