Puisi orang: Keren!!

February 19, 2007

PERCAKAPAN SUNTUK

Orang-orang nongkrong di warung nasi rames sebelah bengkel tambal ban
sepeda di bawah pohon kelengkeng mandul ini tak lagi bisa marah pada
nasib yang tak ada dan bisnis yang nyata. Bukan sebab marah tak
menyelesaikan masalah, tapi sebab ada yang lebih menusuk dari marah.
Kesinisan pinggiran yang mencibir dan peduli setan dan jalan terus
secara nekad menggembleng digembleng kenyataan sehari-hari dengan
harga beras membumbung. Dan orang-orang penting di masyarakat
mulutnya makin enak buat ditabok sebab lagaknya meninjau operasi
pasar; seperti gumpalan kentut tambun berpakaian politisi. Lalu tak
ada jago kampung berkokok lantang di desa-desa sedang dalam proses
terus makin terbunuh. Beberapa pasangan kebohongan dalam apartemen
bebas banjir menyelesaikan persetubuhan yang tertunda-tunda secara
intrik dan ogah-ogahan. Ada yang berjalan tersaruk-saruk sepanjang
gang becek temaram. Bau minuman keras murah yang cepat bikin mabuk
mubal-mubal menyaput cahaya lampu. Kaki-kaki gontai menendang kaleng
biskuit palsu gontai mengejutkan anjing sekarat oleh racun pemakan
anjing. Bayi menangis dicekik ibu menangis tak bersusu siapa bersalah
tentu bukan buahdada yang layu tak indah dan operasi plastik hanya
bagi artis-artis plastik berhidup plastik. Gubuk itu dibalut pendar-
pendar cahaya ironi dalam hujan malam renai kota pesta petaka. Raja-
raja kota kampanye-menggusur- kampanye- menggusur. Permaisuri-
permaisuri kota shopping-bakti sosial-shopping- bakti sosial. Putri-
putri kota dan Pangeran-pangeran kota menyusahkan masyarakat banyak.
Bapa feudal dituding-tuding jidatnya oleh anak-anak kelas menengah.
Crossboy. Pohon rindang bergerak daunnya oleh situasi yang sangat
aneh dalam skenario rembulan makan-memakan dengan matahari.
Kesemuanya dimakan kekelaman awan. Gerilyawan kehilangan semangat
juang menyanyi mars-mars pilu kalah perang untuk kemenangan pengecut
di balik sandiwara kepahlawanan. Lampu merah begitu lama. Mesin-mesin
mengunyah-ngunyahi energi. Ilusi-ilusi menunggu di sebalik pengkolan.
Tak sabaran. Klakson-klakson saling tikam dari belakang. Sedan mulus
menyibakkan arus. Anak jalanan menyeberang jalan tanpa lihat kiri-
kanan sebab dikejar polisi pamong praja. Orang-orang tak menjerit.
Suara-suara jatuh menitik bersama keringat dan airmata dan dentam-
dentam di atas kap mesin dan kaca-kaca pecah. Lantas api pun
berkobar. Aspal lumer.

Leave a Reply