Aku lelah
April 25, 2007
Aku sudah sadar jika aku pelacur, gigolo tepatnya
Tiga kali, demi nilai, aku mesti matikan teman sendiri
Satu kali, demi kursi dewan mahasiswa, aku mesti tampar teman sendiri
Empat kali aku jadi gigolo yang laku keras
Memang nikmat jadi gigolo
Sayang aku keracunan virusmu
Sayang aku tak berkutik padamu dan teman temanmu
Aku cuma bisa bengong, heran, merenungi nasib kenapa bisa begitu
Ah orangtua, kalian memang sungguh aneh
Apa kalian sadar seberapa buruk warisan yang kalian turunkan
Apa kalian sadar betapa hebat bayang bayang kalian di pikiranku
Ah orangtua, ingin kubunuh kalian semua
Orangtua!!Kaum kaum yang sudah mapan!cukupkan warisan kalian!
Aku juga lelah menjadi manusia rakus
Orangtua!ajari saja cara jadi manusia biasa
Yang mengerti hitam-putih dan tidak berada di wilayah abu-abu
Cantik!!!Sini deh……
April 24, 2007
Siapa nama kalian
Apa kalian masih perawan
Apa payudara kalian masih montok
Apa vagina kalian terasa wangi
Kenapa kalian berdua duduk di sana
Apa kalian sepasang lesbian puaskan hasrat
Apa kalian mata mata oposisi pemerintah
Apa kalian sedang terkagum kagum melihatku
Terlalu banyak pertanyaan dan takkan habis
Mari nikmati bulan di bangku masing masing, setelah itu baru kenalan
Selanjutnya perkosalah aku sepuas kalian
Sajak hancur soal menikah
April 24, 2007
Sebaiknya kita menikah saja
Aku laki laki kau perempuan, kau lajang aku jalang
Aku kasar kau lembut, aku ingin mencinta kau ingin dicinta
Jika kita menikah, keseimbangan hidup saling melengkapi akan tercapai
Bulatan bulatan yang kau miliki menyentuh bulatan bulatanku
Menciptakan perpotongan ala diagram Venn
Aku merasa kita senasib tidak sepenanggungan
Ada kesamaan antara kita berdua
Dan menikah adalah menyeimbangkan persamaan dan perbedaan
Jika sejarah memang kulit bawang
April 24, 2007
Siapa yang menikmati bawangnya di dapur
Siapa yang nikmati bumbu bumbu dan masakan-masakanya
Siapa yang berkata "aku kenyang!"
Kenapa hanya para tuan dan nyonya yang bisa nikmat bersantap malam
Sedangkan kami, para pembantu hanya bisa membakar sampah kulit bawang jadi sajak puisi
Kami bukan Munir, Marsinah, Tan Malaka atau berbagai kebusukan semacamnya
Kami ya cuma kami, manusia sebiasa-biasanya yang punya lapar, rasa adil dan ingin sejahtera
Jadi jangan berlebihan tanggapi kami; beri kami kehidupan wajar, tidak perlu aneh-aneh, apalagi sampai mencengangkan perasaan
Dari dulu kami sudah memintanya tapi kenapa kami masih merasa diberi sampah
Sekali lagi kami bukan Munir, Marsinah atau Tan Malaka yang rasa sabarnya sangat tipis
Rasa sabar kami begitu luas, seluas Indonesia, sebanyak kekayaan kekayaan Indonesia
Tapi kenapa kau kuras habis kekayaan kekayaan jiwa kami dan sedikit yang kalian bagikan pada kami
Ayolah ini sudah abad 21, jangan bertingkah seperti penjajah Belanda
Ayolah bangsat!jangan nikmati makanan sendirian
Ajak kami santap malam sambil nonton tukul bersama sama
Jika tidak, maaf kami mengancam:
Munir baru, Marsinah baru, Tan Malaka baru akan datang
Dan beberapa spesies yang kau anggap busuk itu sudah berkeliaran
(Buat Om Heri Latief yang dengan semangatnya kadang kadang bikin saya heran sendiri)
Jangan tanya kenapa
April 24, 2007
Temanku, jangan kau tunggu aku lagi di depan rektorat
Atau di keseketariatan atau di bangku halaman kampus
Aku sudah tidak ada di sana, maaf jika aku belum pamitan
Aku sudah menyerah, lelah, sudah terlalu emosional, tak berdaya
Perempuanku, temui aku di Malang, jalan bogor, tempat kita bercinta lulus SMA
Wanitaku, temui aku di Malang, Toga Mas, tempat kita tertawa habiskan kebebasan
Perempuanku, wanitaku, temui aku di Malang, di Malang, di Malang, di dinginya Malang, hatiku dan hatimu
Itu harapanku setahun yang lalu di kota Malang
Sayang sekarang aku sudah jadi mahkluk liar di Jogja
Aku harap kita akan bertemu lagi disini
Jika iya, akan kularikan kau ke hotel
Dan kujilati seluruh vagina kewanitaanmu
Bisa karenamu
April 20, 2007
Di tulisan yang penuh aliran sungai
Menghantarkan perlawanan untuk tiap sampah yang menyertai
Memungut asap asap sebelentara ombak di terang-redup cahaya
Andaikan nafas bisa jadi angin yang jalankan aliran
Tetapkah kau berjuang?
Di tulisan yang menyertai matahari terbit
Menghangatkan rerumputan yang permadani ke bentuk lebih lanjut
Menyedekahi mulut mulut dengan kesepian kesepian dendam
Mendamaikan rokok, minuman keras dan wanita dengan tasbihan bintang
Benarkah ketulusan bisa jadi matahari
Jangan buru buru retakkan gelasmu
Di tulisan yang menghidupi isi kepalaku
Bayang bayang apa yang membentuk kita semua
Melangkahkan lubang lubang ke pertanyaan ruang waktu
Maukah kau temani terus semua pijakan pijakan dasarku
(Spesial pake telor buat Om Sum)
Tentang desa itu
April 20, 2007
Semalam
Darahnya gelap mengalir
Tangisnya sakit menetes
Penuh mengisi kendi air depan TV
Kendi air pecah, kendi air pecah
Memohon sinar bulan menemani
Tapi kendi air pecah tak ditemani
Kendi air pecah, kendi air pecah
Mengutuk bintang yang tidak bertasbih
Semalam
Gelapnya darah dan sakitnya tangis
Membujur kaku di ruang jenazah
Hujan
April 20, 2007
Hujan merasuk jadi pagar
Memerkosa semua melati
Menjatuhkan semua rindu
Memulangkan pelukmu yang samudra
Hujan merasuk jadi pagar berkawat duri
Menghantarkan ketakutan dan setiap kehitaman ke kepalaku dan seketika itu pula sang hujan menjadi pupuk yang menyuburkan kebencian untuk setiap kelemahan yang mengukuh di mataku
Abu-abu
Tepi
Senyummu
Pertengahan
Samudra
Semua samudra teriakkan raungan
Kejam
Memicing
Jurang
Kerucut
Hanya pertanyaan lelah;
Kaca atau cermin
Dimana inti
Tiang
Langit
Paralel
Sobekan
Tutup
Langkahku
Ah Tuhan…aku rindu sebotol poccari
Hujan merasuk jadi pagar
Udara membagi ruanganya
Waktu berjalan terlalu sempurna
Menjauhkan lagu ke pemakaman
Rindu
April 20, 2007
Malam mengadu rindu
Kekal, menjelma kelambu
Tak satu kata beradu padu
Pada kotak merah jambu
Aduhai cintaku diujung tandu
Dibawa angin musim haru
Pada sabit berjengger buludru
Dibawah, aku mengadu rindu
Nama terus bergema
Entah mengapa
Entah menyapa
Entah dimana
Kususuri tapak waktu lalu
Hitung pasir yang berderas jauh
Diwaktu lalu
hingga ku merindu
Tak jua nama berhenti bergema
Hasrat ikuti gema nama
Dalam seribu tanya
Sedang apa kau disana ?
Kecut hati amatlah dungu
Tatkala suara tak dapat melagu
Kecut hati sisir nama itu
Pada kertas kaca, dunia maya
Sayangnya kau tak pernah ada
Ini puisinya Indah Survyana. Dipasang di blognya. Udah pernah aku baca se dulu, tapi baru nyadar sekarang kok ternyata puisi ini bagus juga. Jadi gatel pengen ngobrolinya. MULAI!!!!!!!!
Dua bait pertama kerasa banget betapa rapinya cewek ini menata perasaanya ke kata kata puisi, 2 bait pertama yang rapi dan tempo perasaanya makin tinggi.’Malam mengadu rindu/Kekal, menjelma kelambu/Tak satu kata beradu padu/Pada kotak merah jambu’, disini Indah mulai merasa something chemistry (ceile…bahasana..sok banget mas!), dia tak bisa memadukan kata, tak bisa ngomong, karena ada sesuatu yang membatasi, sesuatu yang menjadi kelambu, dan itu terasa di kotak merah jambu (nah masalahna yang dimaksud kotak merah jambu ini apa?ini benda nyata ato cuma kiasan. aku ga tau)
Setelah dia bingung dengan kerinduanya di kotak merah jambu, perasaanya naik lebih tinggi; Aduhai cintaku diujung tandu/Dibawa angin musim haru/Pada sabit berjengger buludru. Tiga baris pertama di bait kedua ini pengen nyapa si ‘cintaku’ yang bimbang. Kebimbangan si cinta digambarkan ama kata ‘diujung tandu’, di ujung sebuah akhir. Kebimbangan buat memilih antara beberapa hal. Dan sang cinta memilih dibawa angin musim yang bikin kesedihan, kesedihan sebuah perpisahan. Sang cinta memilih dibawa pergi ke posisi bulan sabit, posisi yg ada di atas. Maksudna si cinta berada di posisi yang lebih atas dari posisi cinta sebelumnya dan posisi indah. Dimana posisi itu juga lebih baik keadaanya, yang digambarkan berjengger beludru. Beludru, kain yang sering disejajarkan dan dikonotasikan ama kemewahan. Akhirnya, indah yang ga ikut naik dan berada di bawah cuma bisa mengatakan rindu pada si cinta.
Nama terus bergema/entah mengapa/entah menyapa/entah dimana. Nama sang cinta terus terbayang, terus bergema. Entah mengapa, aku artikan si Indah ga ngerti apa dan kenapa bisa rindu. Entah menyapa, aku artikan Indah ga ngerti apa iya ada rindu, mungkin disini dia ngerasa ragu. Lanjut dengan entah dimana, disini keraguanya mulai keluar, apa benar si indah rindu, kalo iya dimana, kalo engga kenapa ada perasaan ini, mungkin itu yg ada di perasaan indah untuk bait ini.
Kususuri tapak waktu lalu/Hitung pasir yang berderas jauh/Diwaktu lalu/hingga ku merindu. Disini Indah mengenang, menyusuri masa lalu. Pasir pada jaman dulu dijadiin alat pengukur waktu, dan disini indah menyimbolkan pasir sebagai waktu dan kenangan. Pasir yang berderas jauh menyimbolkan waktu terasa deras dan kejadian kejadian indah bersama cintanya terasa makin menepi karna waktu yang berjalan terus, bahkan terasa deras. Seperti manusia pada umumnya kalo kita mengenang kejadian kejadian lampau yang terjadi adalah kangen, rindu, dibahasakan jadi ‘hingga ku merindu’.
Begitu dalamnya kerinduan si indah sampai sampai, hingga pikiran tentang si cinta tak bisa hilang, tak jua nama berhenti bergema. Pikiran pikran menjadi hasrat, emosional yang mungkin berlebihan. Berlebihan sampai menajdi seribu tanya. Dan diantara seribu pertanyaan dan penasaranya, si Indah menuju satu pertanyaan yang mewakili seribu tanyanya; ’sedang apa kau disana?’ Pertanyaan ini benar benar mewakili pikiran pikran dan hasrat si Indah, sedang apa sang cinta disana, apa sang cinta juga rindu si Indah, apa sang cinta sibuk samapi lupa sama si Indah. Gitulah pertanyaanya, ’sedang apa kau disana?’sangat mewakili hasrat rindu si Indah.
Kecut hati amatlah dungu/Tatkala suara tak dapat melagu/Kecut hati sisir nama itu/Pada kertas kaca, dunia maya/Sayangnya kau tak pernah ada. Kecut hati gambarin ketidakberdayaan Indah mengungkapkan perasaan rindunya entah karena alasan apa. Indah ngerasa ketidakberdayaanya ini dan menyesalinya, sampae dia ngatain dirinya dan ketidakberdayaanya adalah dungu. Diantara kelemahanya itu, waktu Indah ngerasa ga bisa mengungkapkan perasaanya, ga bisa melagukan perasaanya, si Indah mencari-cari nama si cinta pada kertas kaca, dunia maya. Kertas kaca udah dijelasin Indah sebagai simbol dunia maya, dunia internet, dunia chatting. Artina si Indah ama si cinta berhubungan lewat dunia internet. Tapi Indah ga nemuin nama/nick si cinta tiap Indah ada di dunia internet, alias si cinta ga pernah online. Bait terakhir ‘Sayangnya kau tak pernah ada’ jadi akhir yang cukup sedih buat semua pikiran dan hasratnya Indah.
Puisi ini sebenernya ga perludijelasin karna puisi ini udah lumyan cukup jelas maknanya. Yang bikin bagus dari puisi ini adalah si Indah bisa bikin bait bait yang rapi, terarah, tempo perasaanya naik dangan teratur dan pasti, ga emosianal lompat lompat. Selain itu kata kata yang dipilih juga bagus dan lebih bagusnya maksudanya bisa dimengerti. Di akhir puisi ini, di bait terkhir, Indah mengkahiri kerinduanya dengan satu kalimat yang sedih dan menutup semua bait bait di atasnya dengan sempurna; mengakhiri kerinduan dengan kenyataan ga bisa ketemu cinta, kerinduan Indah ga bisa dilampiaskan dengan ketemu cintanya.
Tiga komentar yang cukup kena
April 13, 2007
nggak percaya dengan namanya cinta.
karena nggak pernah merasakan yang namanya cinta.
atau dengan kata lain cinta itu omong kosong.
cuma rayuan yang yang berbobot.
Aku tuh nggk suka hal yang romantis, tapi ku akui aku suka buat puisi. karena hal yang gombal itu hanya untuk puisi.
bukan untuk manusia yang dipenuhi nafsu.
———————————
aku orangnya percaya cinta sejati.
walau aku menggembar gemborkan cinta itu omong kosong.
karena kalau cinta sudah keluar melalui mulut itu namanya nafsu.
cinta hanya ada dalam hati, di ungkapkan dengan rasa.
tidak memaksa, memperkosa, membunuh rasa.
———————————
"WANITA" bukan diciptakan dari tulang ubun-ubun karena berbahaya jika membiarkannya dalam sanjung puja
bukan pula diciptakan dari tulang kaki karena nista, diinjak dan diperbudak,
melainkan WANITA diciptakan dari tulang RUSUK KIRI,dekat di HATI untuk DICINTAI dan dekat dg TANGAN untuk DILINDUNGI..selama2nya……
———————————
Tiga tulisan punya dua temenku.
Gimana menurut kamu?