Aku terkenanya

October 31, 2007

Menyiapkan sekedarnya saja agar pergi ke dunia cinta dimana kami adalah kami
Lalu di pelabuhan, dalam menu yang serba sama, percakapan dimulai dengan telur yang menetas
Sebab setahuku di ujung sana masih ada getir yang lupa mematikan sebuah pesona
Kami sempatkan berjalan jalan di kota, berharap ada sepasang catatan yang masih rahasia
Serasa kami adalah riwayat-Nya yang dibaca dengan hal hal yang tak lazim

Riwayat berakhir begitu saja di sebuah toko dengan etalase konyol
Menyebut sebuah mantra, semacam resep dokter agar detak bisa jadi cerita
Seandainya kata mungkin bisa dihilangkan dari kamus kehidupan
Saat ini aku dan dia hanyalah sepasang airmata di puisi yang hendak bertamu

Kami lelah, pulang kembali dengan cerita ibu anak yang tak disebut namanya
Sepasang mukena mereka dijadikan memori kami di bau anyir kesedihan
Angin, ombak dan camar mainkan kebetulan yang entah di garis ujung mata kami
Tsunami, kami kembali menyambutmu dengan tangan terbuka dan sepi-sepi yang doa
Tutup ruangmu kawan, kami minta riuh rendahnya matahari dinyalakan lebih dan lebih

Akhir akan menjadi semakin akhir di kejauhan saja
Kami memulai dengan cinta ini yang akan hilang ditelan cintanya yang konyol

1. Ada apa dengan jilbab berwarna kemerahan bermotif kembang yang kau kenakan?
2. Bagaimana kelanjutan cerita sebuah tanggal di kalender yang kau tunjuk?
3. Sebuah ayat dari Qur’an kau syairkan dengan nada syair pertanda pertanda wanita
4. Masih ada lajur tentang sesuatu di mulutmu, tertahan begitu saja.
5. Aku pergi, takut. Kau pergi, melenggang semesra permainan melati dan kupu kupu.

Titik dua wanita

October 31, 2007

Bila neraca yang ada di pikiranmu kembali
Muncul diantara rimbunan melati dan benakku
Mengingat semua yang telah kita perlakukan dan lakukan
Lekas!Matikan suara handphone itu

Ada sebentuk kupu kupu di jendelamu, semacam manik yang jauh

Kehidupan yang jauh di pinggiran ruang tunggu
Tatapan pengap mengikuti malam. Menunggu puisi
Yang menyebut nama. Rahasia di garis berbasah basah nuansa
Jarum jam dihentikan di angka 12

Sebuah keping CD kau masukkan di player, lalu bunyi

Sebuah bunyi sudah kau tetaskan. Semacam doa
Untuk sebuah bimbang yang kau bunyikan di keping CD
Berontak, suara meriah. Lagu pudar, menggerutu susah
Semua keringat. Masihkah ada air wudlu di sana

Puisi, merupakan salah satu dari begitu banyak bentuk karya sastra. Pada beberapa sastrawan, puisi dianggap sebagai induk dari semua karya sastra. Analoginya, jika ilmu filsafat adalah induk dari semua bentuk ilmu pengetahuan, maka puisi adalah induk dari karya sastra. Setiap manusia di dunia ini bisa membuat puisi, siapa sih yang tidak bisa membuat puisi?Merangkai beberapa kata menjadi suatu frasa, majas atau pengertian kemudian disatukan lagi hingga mencapai kesan kesan tertentu. Mudah!

Sebenarnya saya tidak terlalu memperhatikan dunia perpuisian Indonesia secara mendetail dan terperinci tapi kemudian menjadi pertanyaan buat saya, bagaimana si puisi yang bagus, puisi yang indah atau pertanyaan itu saya sederhanakan menjadi apa saja standard-standard agar puisi bisa dikatakan menjadi bagus. Turunan dari pertanyaan itu kemudian adalah siapa sih yang menentukan bagus tidaknya puisi yang kemudian secara langsung maupun tidak langsung menentukan arah perpusian Indonesia.

Semalam saya membaca makalah beberapa sastrawan tentang puisi. Ada yang satir menurut saya di makalah makalah tersebut. Di makalah dikatakan bahwa arah perpuisian dan standard standard puisi yang bagus itu ditentukan oleh redaktur sastra koran koran atau majalah majalah yang memuat karya sastra (puisi dan cerpen). Setiap minggu koran koran harian di Indonesia memang memuat beberapa karya karya sastra para penulis Indonesia. Selain itu, ditambahakan juga bahwa yang mempengaruhi arah perpuisian dan karya sastra Indonesia pada dekade ini adalah para penyair dan penulis yang telah menerbitkan buku buku sastra. Nama para penulis penulis itu kurang lebihnya telah diakui dan kemudian entah bagaimana dijadikan semacam acuan arah sastra Indonesia dewasa ini. Korrie Layun Rampan dalam bukunya yang berjudul "Angkatan 2000 dalam sastra Indonesia" telah memuat nama nama penyair dan penulis tersebut. Tapi bagi sang penulis makalah yang saya baca, ada beberapa nama yang tidak dicantumkan oleh Korrie.

Apa betul standard standard puisi ditentukan oleh redaktur sastra koran dan penyair yang sudah menerbitkan buku?Memang kita akui redaktur sastra beberapa koran Indonesia adalah orang orang yang berkecimpung di dunia sastra Indonesia dan mereka sudah memahami seluk beluk dunia sastra Indonesia. Koran adalah sarana yang tepat untuk mempublikasikan karya sastra seseorang karena selain sifatnya yang massal, sebelum dimuat di sebuah koran, karya sastra memang harus difilter oleh redaktur sastra. Jadi memang ada semacam pengakuan tertentu bagi karya sastra yang dimuat di sebuah koran Indonesia, saya tidak mengingkari hal tersebut. Saya tidak ingin menggugat atau semacamnya, tapi sampai sebegitu besarnyakah pengaruh para redaktur sastra koran koran di Indonesia hingga dikatakan mempengaruhi arah puisi Indonesia?

Dan di makalah yang saya baca semalam, sang penulis makalah menyatakan kita harus menggugat besaranya pengaruh yang dimiliki redaktur sastra koran koran Indonesia. Jadi pertanyaan lagi bagi saya, kalau begitu siapa yang menentukan puisi puisi Indonesia?Para penulis dan penyair yang diakui dan telah menerbitkan buku dan kemudian namanya dicantumkan di buku Korrie?Korrie Layun Rampan membuat semacam daftar para sastrawan Indonesia yang dikatakan memepengaruhi arah perpuisian Indonesia. Hampir semua nama yang dicantumkan adalah nama nama yang terkenal di dunia sastra Indonesia dan nama nama tersebut masih konsisten dan eksis di dunia sastra Indonesia. Tapi sampai sejauh manakah pengaruh nama nama tersebut bagi dunia sastra Indonesia?Sutardji Calzoum Bachri adalah seseorang yang memiliki pengaruh yang paling menonjol di sastra Indonesia dengan membebaskan kata dari makna, bagaimana dengan yang lain? (Ini adalah pertanyaan saya sebagai orang awam dunia sastra Indonesia)

Kemudian dari sini saya mau kembali ke pertanyaan dasar bagi kita kita yang awam dunia sastra dan teknik menulis sastra; bagaimana kriteria seseorang dikatakan talah menjadi penyair atau penulis?padahal semua orang bisa membuat puisi. Membuat puisi itu mudah, sangat mudah. Tapi yang sulit dari puisi adalah bentuk tanggung jawab kedepannya, bagaimana penulis puisi tidak sekedar menulis dan bagaimana penulis tetap konsisten dengan kegiatan menulisnya tersebut.

Di toko buku saat ini banyak beredar novel novel pop yang rata rata bercerita tentang kehidupan remaja, sering disebut dengan teenlit. Begitu banyaknya novel novel jenis teenlit bermunculan sampai kadang kadang di toko buku tertentu disediaka tempat khusus bagi novel jenis teenlit. Para penulis novel teenlit kadang kadang lupa mereka harus terus konsisten dengan kegiatan menulis mereka, tidak hanya sekedar numpang lewat saja. Ini satu contoh.

Akhirnya saya beranggapan menulis sastra itu mudah dan saya yakin semua orang bisa melakukanya. Yang sulit adalah menjadi penyair, karena didalam kata penyair banyak tanggung jawab yang harus dipikul. Dan di dunia kepenyairan Indonesia yang aneh ini, menjadi penyair adalah sesuatu yang sulit sulit gampang.

Malam

October 28, 2007

Di sepertiga malam yang pertama aku menyesal
Di sepertiga malam yang kedua aku menangis
Di sepertiga malam yang terkahir aku merenung
Berikutnya, aku lelah dan ketiduran

Ya Tuhan, aku melupakanmu.

Sore sore kesepian di warnet

October 28, 2007

Sore ini adalah senja sesosok wanita yang berdiri menghadapi sebuah meja lounge. Diamnya berseri seri di gelas gelas, piring piring dan kaca kaca kotor; sedikit menjijikkan. Sudah lima kali kupandangi dia, berharap lanskap sebuah kota berhawa surga muncul begitu saja di matanya, tapi tetap saja, ada titik titik menjijikkan di matanya; warnanya hitam. Dan rautnya yang begitu begitu saja seperti lelucon badut di pagi hari, benar benar membosankan. Tapi pada segala itunyalah aku merasa ingin mengecup matanya sampai habis bintik beku di situ, memeluknya sampai habis kutukan kutukan nenek sihir yang mengganggunya di senja yang sudah buntu ini. Dan bikin muak saja, sampai sekarang aku masih belum bisa melakukanya. Aku masih saja duduk memandanginya memandang meja lounge dan cuma pikiranku yang berjalan tanpa perbuatan sama sekali. Dan senja makin mengutuk aku dengan adzanya yang begitu begitu.

(Titik berjalan membuat kehilangan kehilangan baru)

"Halo mas…….."   
Sudah kuduga kau menyapa, kau tentu tahu aku lelaki yang pantang menyerah saat memandangimu dan semoga saja itu memberimu sedikit rasa cinta, kehangatan, rindu di hatimu. Lengan bajumu yang kau naikkan membuat kau semakin seksi di mataku, rambutmu yang kau ikat membuat lehermu terlihat menggairahkan, hmmmmmm…..kau memiliki sex appeal yang cukup menyakinkan.

(Sisimu berjalan paralel di sisiku)

Aku masih membaca surat surat ini, membalasnya, membaca lagi tulisan tulisan itu, memikirkanya, jenuh, diam.  Kau pergi ke bilik rahasiamu sambil dikerudungi jilbab dan jubah keemasan air wudlu.

(Seorang wanita dengan geraknya yang penuh)

Tiga lelaki indah

October 27, 2007

Tiga lelaki dalam sebuah ruangan berisi
seorang wanita yang sedang ditelanjangi dadanya dan beberapanya
tidak berhubungan dengan munajat munajat sang panutan.
Teman, ini  kau kenapa dalam larutan kental.

Tiga lelaki dalam. Sebuah ruangan berisi
hatinya dan kentalnya jilatan hati. Wanita seorang. Sendiri
menghadiri sebuah ruangan berisi tiga lelaki.
Tak ada makian atau tawa. Tiga lelaki. Dicerca kendali
(dan eksoktisnya hamparan padi di malam hari)

Tiga lelaki dalam sebuah ruangan. Berisi
tinta kopi. Diletakkan di mulutmu dan dia. Sebuah sepi

Tiga lelaki
daripadanya
tepi bidadarimu

Malioboro

October 24, 2007

" Dan berikutnya adalah sajak yang duduk diantara kita berdua saat ini, sebab beberapa lembar kata yang sudah kita tulis pergi menjadi titik di degradasi nol. Pada sajak, tak ada yang bisa kita harapkan kecuali perasaan sentimentil yang selalu kita bangga banggakan dan kita jual di tengah kumpulan musik musik gitar dan biola. Sementara, sampai sejauh ini bangku hijau yang kita tinggalkan juga mencuatkan kecupan kecupan yang melati dan beringin, dan aku yakin kau tidak bisa mengacuhkan begitu saja rindu rindu cinta kita di bangku hijau itu. Menurut pandanganku yang sampai beberapa saat lalu masih kaupercayai, aku rasa sebaiknya kita tinggalkan sajak sajak dan persaaan sentimentil ini menuju wilayah damai yang lebih Qur’an-i tanpa perlu mengkhawatirkan akan ada setan iblis tai kucing yang mengganggu zikirmu dan zikirku dan mungkin zikir beberapa bentuk cinta kita berdua.

Perasaan sentimentilmu memang kadangkala mencapai titik titik memuakkan hingga aku sendiri blingsatan menghadapinya. Ada juga kadangkala kau menganggap melihat peri kecil (atau entah bidadari) yang menemani langkahmu dan membantumu memecahkan seikit masalahmu atau masalah orang sekitarmu yang ingin kau selesaikan. Demi Tuhan, cantikku kenapa jarang sekali kau gunakan akal logikamu untuk melihat hidup. Mengapa baru melihat kakek tua yang tidur di pinggir jembatan kau sudah menangis dan paksa aku beli selimut, demi Tuhan hampir kehabisan akal aku mencari selimut di tengah malam. Belum lagi saat kau lihat seorang banci sholat di tengah kumpulan jamaah laki laki, hanya melihat itu saja kau menangis bahagia, kau berharap banci itu menjadi laki laki kembali, ya ampun Tuhan tidak semudah itu sesuatu berubah, cantikku. Aku mungkin lelah, mungkin kesal, mungkin ingin bosan atau mungkin mungkin yang lain yang mungkin juga bersifat sentimentil. Tuhan menciptakan emosimu terlalu berlebihan.

Dan memang tidak kita duga, ternyata sekarang ada sajak setelah kita saling diam selama beberapa jam; sajak maghrib, Sajak Isya dan sekarang sajak lonte. Berikutnya ada beberapa lembar daun hinggap di rambutmu dan berikutnya kau acuh saja dan berikutnya kau tampar aku dan berikutnya kau diam. Lebih dalam lagi kau habisi hatiku, sampai sebiginikah realita yang ingin kau gambarkan padaku, sedangkan dari kopi paling kentalpun aku tidak pernah sesakit ini di kepalaku. Tak ada sesuatu lagi yang bisa memberikan, kau terasa seperti distorsi gitar, kadang bisa aku nikmati, kadang tidak, kau jadi distorsi yang menganggumkan tapi tak bisa kujalani di telingaku. Dan sekarang kau tampar mukaku yang sudah lelah dengan raut mukamu itu, gambaran apa yang ingin kau berikan?Apa kau juga lelah melihatku?kalo itu aku memang yakin, tapi tamparanmu pasti lebih dari itu!

Dan berikutnya sajak yang sudah ada di antara kita berdua diduduki seorang banci. "

                                             -!-

"Aku sedang melihat kupu kupu di bangku hijau kesayangan kita kemaren sore, disitu juga terlihat kumpulan putik putik melati dan lima kuntum mawar merah. Saat itu aku jadi terganggu oleh kondisi kita berdua saat itu. Sudah benarkah jalan kita berdua atau kita sedang terlena nafsu. Aku berpikir dan entah mengapa aku ingin sekali kembali menjadi laki laki yang kosong dan rindu pada pelukan dongeng kakek dan ibu di rumah, aku rindu keluargaku saat itu, apa aku sudah mendapat izin dan restu mereka, apa aku sudah meminta izin saat melawan arus ini, apa aku sudah benar, apa aku sudah ikhlas saat melawan ini semua?Apa keluargaku mengerti dengan ikhlas atau terpaksa memaklumi tindakanku?

Bunga di hatiku rasanya belum bisa merona saat ini, kuncup pun belum terasa, jadi maaf aku dan kamu belum bisa menikmati kupu kupu yang berwarna pelangi. Mungkin pada suatu hari yang bersifat bintang gemintang dan tidak ada lagi besi besi berkarat yang menghantam leher kita, mungkin saat itu saat yang tepat bagi kita berdua menikmati secangkir teh dan kopi sambil ditemani nasi goreng buatanku di beranda rumahmu. Pada saat itu kita bisa mencincipi rasa rasa baru yang lebih memikat di hati, tidak sekedar bergerak menari nari dan tertawa di tepian batas batas yang penuh jurang jurang.

Dan saat ini kenapa kau sentuh rambutku!aku sedang mencoba melawan arusmu, dan mencoba masuk arus yang lama, maaf…………………………………………………..Kau begitu saja membangkitkan rasa rasa dendamku yang tidak bisa kusalurkan ke dunia luar dan kau tahu pastinya seberapa besar dendamku ini. Setidaknya sekarang kau sudah paham pendirianku hari ini dan untuk beberapa keesokan harinya. Jadi sekrang tingal diamkah yang kau berikan padaku?Knapa kau tidak merayuku lagi, lawanlah arusku saat ini dan aku buktikan padamu betapa cadas arus yang aku pegang saat ini!Ayo..!!

Kenapa tiba tiba ada banci duduk menghalangi pandanganku kepadamu?Siapa dia?"

Sementara begitulah jarak

October 20, 2007

Lalu aku bebas
Diantaranya batas
Dan tepi. Di permukaan menyeruak
Satu per satu. Memahami samudra. Hakekat
Menari di nyanyian nafas kebebasan benar

(Aku melihat sepasang cinta bercumbu di pepohonan, seindah itukah?sedangkan jalan tetap abu. Zikir masih kita nyanyikan untuk mengikat cinta dalam bentuknya yang tidak sekedar. Dengan cara ini aku menjadi ini dan dengan segalaku yang ini aku masih ingin berzikir bersamamu)

Aku merasa mewangi putih yang tanpa sepi
Dan tepi.

Sedikit basa basi

October 20, 2007

Saya sudah meredamkan sedikit emosi saya yang tadi sore agak ga terkontrol. Jadi ada baiknya saya bercerita tentang kehiudpan seorang laki laki yang entah bagaimana sampai sekarang belum ada satupun cewek yang mau jadi pacarnya.

Cerita berawal dari hilangnya saya selama beberapa bulan ini. Walaupun hampir tidak ada yang merasa kehilangan saya, saya dengan PDnya akan bercerita sedikit tentang hilangnya saya. Karena ini forum umum dan masyrakat umum bisa membacanya sehingga ditakutkan akan terjadi desas desus dan gosip dan slentingan dari orang orang yang tidak bertanggung jawab, maka dengan ini saya menyatakan untuk menceritakan sedikit saja jalan hidup saya seperti yang telah saya sebutkan di atas tadi.

Oke demikian, terima kasih, jadi begitulah beberapa hal yang berhubungan saat saya menghilang. Akhirnya setelah menghilang saya berhubungan kembali dengan internet, suatu kondisi yang sangat menggairahkan hidup saya kembali, puji tuhan, alhamdulilah……

Akhirnya sabtu pagi saya pergi ke kota YK, meninjau sikon YK sehubungan dengan pencalonan diri saya sebagai walikota YK masa depan (hhmmm….rencana yang cukup menjanjikan uang berlimpah). Setelah sampe di Lempuyangan, saya disambut rombongan pemudik yang melakukan arus balik, menurut data yang diperoleh dari telepati saya dengan jin jin dan hantu hantu lempuyangan, ternyata arus balik mencapai puncaknya pada hari sabtu ini dan minggu ini. Kereta Progo yang rencananya berangkat dari Lempuyangan menuju daerah lain (maaf, saya g tau kereta Progo itu tujuan akhirnya kemana, karena data yang saya proleh dari jin kiprit Lempuyangan tidak menyebutkan tujuan kereta Progo) sudah penuh sesak sejak jam 12.00 WIB. Ini adalah kondisi yang sangat miris, ironis dan menyedihkan (maaf kalo kata katanya terlalu seperti aktifis aktifis kampus) jadi oleh sebab itu saya segera meninggalkan stasiun lempuyangan dengan cuek bebek, ga peduli mereka pada mau ngapain.

Tujuan berikutnya adalah sebuah warnet. Tidak perlu diceritakan ada apa aja di sini, males………………

Setelah di warnet saya menuju daerah tamsis, numpang mandi, gosok gigi (emang kapan gosok gigi bang!?boong sampean bang!!) dan tidak lupa membantu ibu membersihkan tempat tidur…..setelah itu tujuan saya langsung kawasan Malioboro. Ngapain di sono?ya jelas plonga plongo lah….liat liatin cewe cewe cantik. Jogja umumnya dan kawasan malioboro khususnya menyimpan pesona gadis gadis cantik baik yang masih perawan ataupun yang sudah janda atau bahkan juga yang masih punya suami. Itulah alasan terbesar saya kenapa saya begitu mencintai kota YK ini. Di Malioboro kita bisa ngeliatin cewek dari yang model Omas ampe yang model Pamela Anderson. Begitulah,sampai ngiler saya ngeliatin cewek cewek itu dan andaikan saya tidak ingat pada prinsip saya (prinsip saya adalah menyerahkan keperjakaan saya kepada Luna Maya) saya tidak tahu bagaimana kondisi saya saat itu. Setelah puas plonga-plongo, saya mengambil jurusan ke pasar beringharjo, tepatnya sebuah warung makan di deket pintu masuk utama pasar beringharjo. Warung makan ini menyediakan berbagai macam masakan khas YK dengan rasa yang bisa menggoyang lidah dan gigi anda dan (bagi beberapa orang) dompet. Memang rasanya enak tapi berhubung terletak di kawasan pariwisata, jadinya harganya mahal, udha gitu embah yang jualan galak setengah ampun. Untung aja makananya enak, coba kalo engga, udah aku maki maki tu orang!!

Setelah puas makan, akhirnya perjalanan dilanjutkan ke arah stasiun tugu. Di pertigaan Sarkem-Malioboro, pemerintahan kita ini telah menyediakan dan berusaha semaksimal menyediakan layanan bagi masyarakat dan wisatawan YK, berupa informasi informasi dan arahan arahan yang sangat menyejukkan. Tapi berhubung udara YK malam ini udah dingin, jadi akhirnya arahan arahan itu ga terlalu dianggep, tapi bukan berarti ga ada yang nganggep!Pasti dianggep lah!!

Setelah menyebrangi dua rel PT KAI yang melelahkan kita sampai di Jalan Pangeran Mangkubumi, ada apa disini?tentu saja barang barang bekas dan barang aspal yang menjanjikan harga harga murah meriah bin mengasyikkan jiwa raga. Sekedar cuci mata dan liat liat aja udah bisa memuaskan jiwa ini…ahhh nikmat…………dari kolor bekas ampe HP bekas semuanya ada disini, anda mau nyari apa disini?pasti ada!Semacam toko segala aya-nya Padhayangan gitu lah.

Setelah Pangeran Mangkubumi kita berbelok ke Pangsud dan langsung tancep gas aja………………….

Mumun….engkau emang frend dah!!

(Jika anda memahami 100% kata kata saya atau mencoba memaksakan memahami 100% kata kata saya di atas, sebaiknya anda periksakan diri anda ke dokter jiwa sebelum anda mengalami gangguan mental seperti saya. Karena ada beberapa bagian dari cerita saya itu yang saya buat asal asalan aja dan seenaknya aja, tanpa sopan santun)