Aku terkenanya

October 31, 2007

Menyiapkan sekedarnya saja agar pergi ke dunia cinta dimana kami adalah kami
Lalu di pelabuhan, dalam menu yang serba sama, percakapan dimulai dengan telur yang menetas
Sebab setahuku di ujung sana masih ada getir yang lupa mematikan sebuah pesona
Kami sempatkan berjalan jalan di kota, berharap ada sepasang catatan yang masih rahasia
Serasa kami adalah riwayat-Nya yang dibaca dengan hal hal yang tak lazim

Riwayat berakhir begitu saja di sebuah toko dengan etalase konyol
Menyebut sebuah mantra, semacam resep dokter agar detak bisa jadi cerita
Seandainya kata mungkin bisa dihilangkan dari kamus kehidupan
Saat ini aku dan dia hanyalah sepasang airmata di puisi yang hendak bertamu

Kami lelah, pulang kembali dengan cerita ibu anak yang tak disebut namanya
Sepasang mukena mereka dijadikan memori kami di bau anyir kesedihan
Angin, ombak dan camar mainkan kebetulan yang entah di garis ujung mata kami
Tsunami, kami kembali menyambutmu dengan tangan terbuka dan sepi-sepi yang doa
Tutup ruangmu kawan, kami minta riuh rendahnya matahari dinyalakan lebih dan lebih

Akhir akan menjadi semakin akhir di kejauhan saja
Kami memulai dengan cinta ini yang akan hilang ditelan cintanya yang konyol

Leave a Reply