Malioboro

October 24, 2007

" Dan berikutnya adalah sajak yang duduk diantara kita berdua saat ini, sebab beberapa lembar kata yang sudah kita tulis pergi menjadi titik di degradasi nol. Pada sajak, tak ada yang bisa kita harapkan kecuali perasaan sentimentil yang selalu kita bangga banggakan dan kita jual di tengah kumpulan musik musik gitar dan biola. Sementara, sampai sejauh ini bangku hijau yang kita tinggalkan juga mencuatkan kecupan kecupan yang melati dan beringin, dan aku yakin kau tidak bisa mengacuhkan begitu saja rindu rindu cinta kita di bangku hijau itu. Menurut pandanganku yang sampai beberapa saat lalu masih kaupercayai, aku rasa sebaiknya kita tinggalkan sajak sajak dan persaaan sentimentil ini menuju wilayah damai yang lebih Qur’an-i tanpa perlu mengkhawatirkan akan ada setan iblis tai kucing yang mengganggu zikirmu dan zikirku dan mungkin zikir beberapa bentuk cinta kita berdua.

Perasaan sentimentilmu memang kadangkala mencapai titik titik memuakkan hingga aku sendiri blingsatan menghadapinya. Ada juga kadangkala kau menganggap melihat peri kecil (atau entah bidadari) yang menemani langkahmu dan membantumu memecahkan seikit masalahmu atau masalah orang sekitarmu yang ingin kau selesaikan. Demi Tuhan, cantikku kenapa jarang sekali kau gunakan akal logikamu untuk melihat hidup. Mengapa baru melihat kakek tua yang tidur di pinggir jembatan kau sudah menangis dan paksa aku beli selimut, demi Tuhan hampir kehabisan akal aku mencari selimut di tengah malam. Belum lagi saat kau lihat seorang banci sholat di tengah kumpulan jamaah laki laki, hanya melihat itu saja kau menangis bahagia, kau berharap banci itu menjadi laki laki kembali, ya ampun Tuhan tidak semudah itu sesuatu berubah, cantikku. Aku mungkin lelah, mungkin kesal, mungkin ingin bosan atau mungkin mungkin yang lain yang mungkin juga bersifat sentimentil. Tuhan menciptakan emosimu terlalu berlebihan.

Dan memang tidak kita duga, ternyata sekarang ada sajak setelah kita saling diam selama beberapa jam; sajak maghrib, Sajak Isya dan sekarang sajak lonte. Berikutnya ada beberapa lembar daun hinggap di rambutmu dan berikutnya kau acuh saja dan berikutnya kau tampar aku dan berikutnya kau diam. Lebih dalam lagi kau habisi hatiku, sampai sebiginikah realita yang ingin kau gambarkan padaku, sedangkan dari kopi paling kentalpun aku tidak pernah sesakit ini di kepalaku. Tak ada sesuatu lagi yang bisa memberikan, kau terasa seperti distorsi gitar, kadang bisa aku nikmati, kadang tidak, kau jadi distorsi yang menganggumkan tapi tak bisa kujalani di telingaku. Dan sekarang kau tampar mukaku yang sudah lelah dengan raut mukamu itu, gambaran apa yang ingin kau berikan?Apa kau juga lelah melihatku?kalo itu aku memang yakin, tapi tamparanmu pasti lebih dari itu!

Dan berikutnya sajak yang sudah ada di antara kita berdua diduduki seorang banci. "

                                             -!-

"Aku sedang melihat kupu kupu di bangku hijau kesayangan kita kemaren sore, disitu juga terlihat kumpulan putik putik melati dan lima kuntum mawar merah. Saat itu aku jadi terganggu oleh kondisi kita berdua saat itu. Sudah benarkah jalan kita berdua atau kita sedang terlena nafsu. Aku berpikir dan entah mengapa aku ingin sekali kembali menjadi laki laki yang kosong dan rindu pada pelukan dongeng kakek dan ibu di rumah, aku rindu keluargaku saat itu, apa aku sudah mendapat izin dan restu mereka, apa aku sudah meminta izin saat melawan arus ini, apa aku sudah benar, apa aku sudah ikhlas saat melawan ini semua?Apa keluargaku mengerti dengan ikhlas atau terpaksa memaklumi tindakanku?

Bunga di hatiku rasanya belum bisa merona saat ini, kuncup pun belum terasa, jadi maaf aku dan kamu belum bisa menikmati kupu kupu yang berwarna pelangi. Mungkin pada suatu hari yang bersifat bintang gemintang dan tidak ada lagi besi besi berkarat yang menghantam leher kita, mungkin saat itu saat yang tepat bagi kita berdua menikmati secangkir teh dan kopi sambil ditemani nasi goreng buatanku di beranda rumahmu. Pada saat itu kita bisa mencincipi rasa rasa baru yang lebih memikat di hati, tidak sekedar bergerak menari nari dan tertawa di tepian batas batas yang penuh jurang jurang.

Dan saat ini kenapa kau sentuh rambutku!aku sedang mencoba melawan arusmu, dan mencoba masuk arus yang lama, maaf…………………………………………………..Kau begitu saja membangkitkan rasa rasa dendamku yang tidak bisa kusalurkan ke dunia luar dan kau tahu pastinya seberapa besar dendamku ini. Setidaknya sekarang kau sudah paham pendirianku hari ini dan untuk beberapa keesokan harinya. Jadi sekrang tingal diamkah yang kau berikan padaku?Knapa kau tidak merayuku lagi, lawanlah arusku saat ini dan aku buktikan padamu betapa cadas arus yang aku pegang saat ini!Ayo..!!

Kenapa tiba tiba ada banci duduk menghalangi pandanganku kepadamu?Siapa dia?"

Leave a Reply