Sore sore kesepian di warnet

October 28, 2007

Sore ini adalah senja sesosok wanita yang berdiri menghadapi sebuah meja lounge. Diamnya berseri seri di gelas gelas, piring piring dan kaca kaca kotor; sedikit menjijikkan. Sudah lima kali kupandangi dia, berharap lanskap sebuah kota berhawa surga muncul begitu saja di matanya, tapi tetap saja, ada titik titik menjijikkan di matanya; warnanya hitam. Dan rautnya yang begitu begitu saja seperti lelucon badut di pagi hari, benar benar membosankan. Tapi pada segala itunyalah aku merasa ingin mengecup matanya sampai habis bintik beku di situ, memeluknya sampai habis kutukan kutukan nenek sihir yang mengganggunya di senja yang sudah buntu ini. Dan bikin muak saja, sampai sekarang aku masih belum bisa melakukanya. Aku masih saja duduk memandanginya memandang meja lounge dan cuma pikiranku yang berjalan tanpa perbuatan sama sekali. Dan senja makin mengutuk aku dengan adzanya yang begitu begitu.

(Titik berjalan membuat kehilangan kehilangan baru)

"Halo mas…….."   
Sudah kuduga kau menyapa, kau tentu tahu aku lelaki yang pantang menyerah saat memandangimu dan semoga saja itu memberimu sedikit rasa cinta, kehangatan, rindu di hatimu. Lengan bajumu yang kau naikkan membuat kau semakin seksi di mataku, rambutmu yang kau ikat membuat lehermu terlihat menggairahkan, hmmmmmm…..kau memiliki sex appeal yang cukup menyakinkan.

(Sisimu berjalan paralel di sisiku)

Aku masih membaca surat surat ini, membalasnya, membaca lagi tulisan tulisan itu, memikirkanya, jenuh, diam.  Kau pergi ke bilik rahasiamu sambil dikerudungi jilbab dan jubah keemasan air wudlu.

(Seorang wanita dengan geraknya yang penuh)

Leave a Reply