Aku mendekat-kau mendekat-mereka mendekat; Mautmu
December 19, 2007
Betis dan lehermu berharum harum perayaan itu
Yang pasrahkan aku ke pucuk ziarah paling sudut
Di penghantar sebuah ruang yang juga berwarna kalut
"Ah, kenapa vaginamu berbangkai bangkai bau kubur"
Siapa mempondasikan kecap kesumat. Tidak sejarah
Atau suasana ideal. Penjelasan ekstra panjang
Akan sajadah gersang dan ayat dendam. Harapan
Pada rumah di hamparan matang sajak dedaunan
"Siapa pula memaksamu menjejakkan kupu kupu"
Katamu. Aku seret perasaan setegak pusara yang ada
Di matamu. Ada kalimat berakhiran perangkap. Syahwat
Ini kau tuliskan di kertas rasa butuh dan geram bebal
Aku harus membuat sajak sajak kosong agar kau mendekatiku
Sejumput kata butuh menuduh bahwa aku kusut di pikiranku
Sekepal kata bebal menjegal aku di catatan embun suaramu
Aku mendekat-kau mendekat-mereka mendekat; Mautnya waktu
Dan ini sajak sajak kosong menegakkan tiang semacam bendera perang untuk hasratku di betis, leher, sekaligus vaginamu.
Jika nanti ada batal mengejar. Mungkin kesumat atau kalut atau dendam atau kubur atau bisa jadi wajahmu. Tapi kurasa itu waktu.
Jika nanti aku tinggal ikut kotoran bisikan jarum detik. Mengenang-ngenang kehendak pesona. Menyebut nyebut kalimat adzan.
Matikan nyawaku begitu saja. Dengan gelapmu. Kubur aku di titik tanding angka enamnya waktu.
Sebenarnya aku ingin diam yang tidak. Andai saja aku hanya lihat wajahmu yang di cermin. Kau itu suatu apa.
December 19th, 2007 at 4:10 am
Keren