Gubeng
December 17, 2007
Aku lewat di tempat aku terakhir kamu, aku rindu waktu waktu itu, dan di kuburanmu, bagaimana kabarmu?Aku sudah hancurkan kaset kaset milikmu; PADI, Coldplay, RHCP, begitu banyak kasetmu jika aku harus sebutkan satu per satu. Semalam aku di gubeng, sendirian aku dari solo, kota yang selalu kau bangga banggakan. Aku pergi ke pojok stasiun, bawah flyover, sambil berharap ada wangi wangimu yang tersisa di mulut sampah dan para gelandangan. Ah, sudah tidak ada kata kata lucu dan segarmu di mereka ternyata, biarlah, kau sudah mati jadi sepertinya tak penting menggagapmu penting. Aku berjalan sebentar ke kantor PDAM menemui tulisanmu, dan hebat, semua sudah hilang entah di tangan siapa.
Jadi mengapa kau membuat kuburan sendiri, di daerah yang benar benar sepi temanku?di daerah yang susah dijamah dan kau sendiri tahu, kau tidak bisa berbuat apa apa selain ngungun memandangi hari hari. Kau yang mantan aktivis mahasiswa, kau yang berusaha mati mati mendirikan demokrasi kampus, kau yang berlelah lelah selama tiga bulan berinteraksi dengan aku hanya untuk membujukku agar masuk organisasimu, kau yang berpeluh keringat di terik siang memantau teman teman berdemonstrasi melawan rektor baru, kau yang sampai malam masih mendekati gelandangan, kau yang sampai subuh memotivasi banci banci jalanan, kau yang terlalu banyak kegiatan sosial. OO..apa karena kau merasa terlalu banyak kegiatan sosial hingga akhirnya kau merasa jenuh?Padahal seingatku kau selama ini biasa biasa saja menanggapi stresmu, jadi kurasa bukan karena jenuh kau menggali kuburanmu. Ah, peduliku tentang itu, aku hanya perlu kabarmu di rumah tua busukmu itu!!
Tidak ada sambungan telpon, (dan artinya aku pesimis kau memiliki sambungan internet), dan hanya sebulan sekali ada kurir yang menuju tempatmu membuat aku harus berpikir lagi mengenai saling berkirim surat denganmu, bangsat kau!Kau terlalu mengucilkan diri bangsat!Dan disini aku tetap bisa bermewah mewahan dengan santai dan tanpa beban. Ah, beban, terlalu naif aku bicarakan mengenai beban jika dihubungkan denganmu.
Aku lewat di tempat terakhir ketemu kamu, bangku itu, saat gubeng penuh memori basah. Gubeng tetap seperti terakhir kau peluh basahi dengan keringat; KONYOL
Leave a Reply