I

Ada malam dihawai kalimatNya. Berhampar hampar
surga mengenai hatimu di esok pagi yang bermekar mekar.
Bermekar mekar esok subuh di senyummu. Untuk kejar
yang tak semabarang. Di tubuhnya kalimat "Allahu akbar"

Untuk esok, bukan sajadahmu yang ingin kupinjam

Ini malam terasa sampah?Benarkah ada jalang
di tindak tanduk jalan. Warna abu sebening belang?
Pun kau di pusaraNya tetap sebut lagu dendang
(Beriang riang bahasa ingatan tentang)

II

Ada malam dibisiki malaikatNya. Beruang ruang
itu suara di kamarmu selayak adzan. Kemudian terbang
ke mulut syukurmu yang matang. Puisi kaligrafi panjang
mendamaikan citra untuk hatimu terjemahan kembang

Di ruangmu malam ini, aku ingin memaku

Ini malam batalkan pertanda. Detak berhasrat gentar
Sudahkan menjelma kutuk. Mautnya menghadap belukar
Pernah kita catat di enggan dinding kubur yang kabar
(Bahwa saksi, ini sekedar semoga gemetar)

III

Ada malam yang begitu saja dihadirkanNya. Sebab mimpi
tidak sekedar waktu. Berasyik masyuk dengan nyeri puisi
atau mungkin penjuru jejak dan rumahnya hati kami
(Untuk esok pagi yang ramai ditambah-tambahi sepi)

Leave a Reply