Membayangkan cinta
February 25, 2008
Bayangkanlah cinta; hasrat-hasrat kita
Merah. Penuh birahi.
Bayangkanlah cinta; senggama pikiran kita
Basah. Tanpa falsafah.
Bayangkanlah cinta
Betapa kita saling mencelakai
Dalam perbincangan
February 25, 2008
Pernahkah kita bicara tentang gundah yang bersela di perbincangan. Hingga kita sering memaparkan serapah cinta. Air mata. Dans emakin sadar kita membangkang. Arah Nafsu. Buta. Tanpa percaya sesiapa. Berdua. Kau aku menggigil rindu.
Pernahkah kita bicara tentang sesal yang secara tak sadar selalu kita hadirkan di perbincangan. Sesal yang lalu jadi kesal. Sebab lama lama kita makin bebal.
Malioboro
February 22, 2008
Ada angkringan, kendaraan dan lalu lalang jiwa manusia
Menyesak, memantul, menunggu, beberapa menelusur dengan lagu
Jalan pulang ada di mana
Jalan yang makin sungsang karena kenang
Ada bangku panjang, beringin dan entahnya rasa manusia
Merapal mantra mantra angka dan alkohol
Mengeraskan bau lusuh
Bau lusuh penuh dusta dan palsu
Ada lampu, halte baru dan ruangan penuh rindu
Barangkali mencari bibirmu yang sepertinya lembut
Tuk dikecup
Semakin fragmen
February 21, 2008
I
Kita memulai waktu waktu yang sepi. Sendiri.
Dalam hangat pagi. Senyum yang mentari. Menghirup semu.
Pun juga keliru, dari ikal rambutmu, aroma katamu. Kental
Membelenggu. Rusuk usiaku yang tak pernah menopang daging lelaki.
II
Mungkin terlalu lama membekukan hati. Hingga terlalu.
Sebab walau hanya bau, kita berani bilang rindu. Merdu.
Lalu gumam gumam malu mencatat peluh. Punggungmu yang penuh
Abjad abjad hasrat yang meliukkan resah. Narasiku yang hitam.
Sampaikah kita di ruang sajak hangat. Arah kiblat.
Di mana malam bukan angka-angka khayal. Atau bacaan sia sia
Hamparan kisah adam-hawa. Dendang lirik-lirik dusta.
Melajur hingga keras. Tak pernah tuntas. Ayat utopia.
III
Catatan dendam dijadikan halaman depan. Alasan panjang jejak kita.
Yang semula terasa labirin, malah makin belantara. Tak sederhana.
Tapi kita tetap asyik masyuk mengeja ruang istirahat.
Penuh kecupan. Vagina. Sajak. Kadang segenap ranjang.
Tanpa dialog pun, kita sudah jijik dengan tangis.
Kita bikin romantisme perasaan. Penuh seluruh.
Hingga imajinasi mengapi-api. Sampai masturbasi.
Di birahi instalasi. Instalasi birahi yang sunyi.
Kita makin lekas menyesat. Tak berkendali.
Tanpa merasa perlu ejaan akhlak. Atau altar tengkar.
Bukan lagi hutan, kita adalah kesemestaan.
Bukan lagi cinta, kita adalah asal muasal. Pekat.
Fragmen
February 21, 2008
Jika malam sudah terlanjur datang dengan mendung, mari sediakan payung, agar nanti ranjang senyummu tetap indah tanpa rasa jengkel pada hujan.
Jika malam sudah terlanjur datang dengan kantuk, mari mendambakan lagu, agar nanti sajak perasaanku tetap suci tanpa rasa benci pada basi basi mimpi.
Jika masih kita damba ranjang di saat hina makin menguasa. Malam. Segenap daya melelah. Tinggal perihal gelap dan miris pada gigil udara.
Kenapa begitu jauh ranjang dambaan?Hingga doa hanya menyisakan kutuk.
Jika masih kita damba malam yang kadang penuh serapah. Resah. Kontemplasi ragu. Menyiapkan ziarah ke arah kiblat yang makin entah.
Kenapa kita damba malam?Arah vagina?
Jika masih kita damba apa. Penuh bara. Iyakah?
Suara tulis yang tak mau menipis.
Terus menerus. Terus menerus. Terus menerus.
Datangnya ia
February 19, 2008
Ia datang tidak dengan enggan. Hanya bebal yang ada di benaknya waktu itu. Karena sendiri makin terasa badai baginya. Dan kepul coklat hangat sudah tak bisa mendamaikan hatinya. Ia meminta segelas kopi hasrat kental. Lalu mencari luasnya malam dan bintang, yang katanya adalah kebebasan. Mungkin dia merasa harus menyesatkan dirinya dari jalan pulang ke ibu bumi, tempat ia berasal.
Ia datang dengan catatan khusus. Di tubuhnya yang penuh peluh, ia belenggu embun lelaki. Dengan penuh tangis, kadang ia buka lembaran keriput masalahnya. Penuh halang rintang. Ia merasa semacam korban, semacam sketsa kejadian.
Ia datang tidak dengan luka. Hanya derap langkah. Barangkali semacam sajak yang ingin bercerita tentang perempuan.
Di beranda
February 19, 2008
Narasi rumusan kita istirahatkan saja
Di beranda ini kita eja kembali
Derasnya waktu dan kepulan uap masa lalu
Sambil berharap datangnya tamu bernama surga
Doa untuk rindu
February 19, 2008
Aku berusaha mengerti rindumu. Barangkali kudapat sebuah hasrat.
Mungkin rasa gugat. Mungkin sketsa perang teka teki kehidupan
Kembang. Kental kehidupan bintang. Atau mungkin sekedar
Dendang. Sebuah jalan pulang ke Maha Tembang.
Rindumu seakan deretan perabot di sebuah ruang. Instalasi bisu.
Barangkali kau mau beri aku kecupan. Yang teramat pekat.
Agar rindu tak sekedar kukecap. Agar rindu bukan segenap sesat.
Mungkin kau bersedia memberi ayat ayat jejak. Yang sederhana.
Agar rindu tak sekedar birahi. Agar rindu bukan segenap gema kosong belaka.
Doa
February 18, 2008
Yesus,
sudahkah kau berunding
dengan Nabi Muhammad
tentang satu gembalamu
dan cintanya padaku
Rindu #2
February 18, 2008
Di daerahku, kau menggigilkan kemarau yang mencari danau danau lagu untuk dikeringkan. Di daerahku, kau merusak mantra mantra yang selalu meminta air mataku
Aku menjadi terkagum dengan hujan dan basahnya asmara yang kau sajikan. Aih, ini bukan mimpi perempuanku, dan kau menjadi sajak yang mengisahkan hangat rumah.