Datangnya ia
February 19, 2008
Ia datang tidak dengan enggan. Hanya bebal yang ada di benaknya waktu itu. Karena sendiri makin terasa badai baginya. Dan kepul coklat hangat sudah tak bisa mendamaikan hatinya. Ia meminta segelas kopi hasrat kental. Lalu mencari luasnya malam dan bintang, yang katanya adalah kebebasan. Mungkin dia merasa harus menyesatkan dirinya dari jalan pulang ke ibu bumi, tempat ia berasal.
Ia datang dengan catatan khusus. Di tubuhnya yang penuh peluh, ia belenggu embun lelaki. Dengan penuh tangis, kadang ia buka lembaran keriput masalahnya. Penuh halang rintang. Ia merasa semacam korban, semacam sketsa kejadian.
Ia datang tidak dengan luka. Hanya derap langkah. Barangkali semacam sajak yang ingin bercerita tentang perempuan.
Leave a Reply