Di batas wajahmu
March 15, 2008
Mungkin di suatu hari yang lalu kita pernah bercerita tentang perbincangan ini. Engkau, aku, dan beberapa pilihan tentang waktu. Tidak ada jual beli opini dan politik, hanya bahasa tentang musim teduh. Dan sejuk nafas angin di batas wajahmu.
Engkau yang masih menawarkan segala kemanjaan di lelah entah.
Dari segala ruang
Bising percakapan
Saling menentang
Kemungkinan bergentayangan.
Di Sekaten
March 15, 2008
Gamelan sudah bertasbih
Mendoakan cuaca gerimis
Bukan sedih air mata Sultan
Gerimis rintik berdzikir
Sambil diinjak megahnya malam
Yang menaikkan bendera kelam
Malam sibuk bercanda tawa
Di halaman depan kehidupan
Kita. Makin nekad denganNya
Inilah kita
March 15, 2008
Kita terlalu jujur terhadap dusta. Segala kata kita makin basa-basi belaka.
Dan ribuan harap jadi dinding dinding.
Inilah kita;
seperti banksy,
mencoret coret dinding agar menjadi grafiti
Sajak yang menemaniku di beranda saat mengingatmu
March 15, 2008
Suatu waktu aku harus mengubur rindu. Rencana-rencana menjadi jarak tak tentu.
Mungkin waktu memang berhasil merenggut tentangmu. Dan aku tak tahu bagaimana
ungkapkan alasan alasan masa lalu.
Waktu memang terlalu rumit untuk
direntang.
Hingga dedaunan sudah berwarna coklat dan siap gugur, aku
masih menarasikan cinta. Di beranda tempat kau biasa sajikan teh hangat, ada
kisah yang begitu sempurna. Bersama rimbun harum bunga melati. Bersama sajak
yang rahasia.
Dan ketika dedaunan sudah berguguran menutupi tanah, engkau
masih saja terbaring di kamar usia. Penuh seluruh. Bermimpi tentang jasad dan
helai helai rambut yang terus menerus bermusim hijau utuh.
Sajak rayu
March 15, 2008
Semua begitu jalang
Setelah diurai elok rambutmu
Satu per satu. Hingga
utuh jadi beku
Setelah engkau tersenyum
Sekumpulan sumpah serapah
menunggu
Menjadi sajak tentang rindu pada ibu