I/

aku ingin
miliki anak
dari rahimmu
agar bisa bercinta
kita semua
di taman pintar

II/

aku jatuh
tentu sudah
kau tahu

III/

Lalu bisu. Mengganti desing.
Waktu.
Lalu berlalu. Jauh.
Di mulutmu ada vagina.

IV/

aku jatuh
cinta padamu
secara anarkis

Sajak kacau untuk maut

April 30, 2008

akhirnya aku membaca juga. cerita-cerita laut tentang maut
kau lalu menolakku untuk kencing bersamamu
di laut

akhirnya aku berkeinginan juga. tubuhmu yang sebentar lagi berwarna ungu
kau lalu tersenyum sambil memasukkan laut
ke tubuhku

akhirnya aku mendatangimu juga. cerita-cerita indah tentang cinta
aku lalu ingin mengencingimu
dengan laut

kau tertawa juga. kiasan-kiasan klise tentang nafsu
aku lalu ingin berpakaian malaikat
mengecup hatimu

Maut di kamar

April 30, 2008

Akh, aku seperti sunyi dalam mati. Aku berbisik-bisik
tentang hakiki. Hakekat suatu tempat ( yang rasanya
sudah pekat atau memang ini bukan saat yang tepat)
"Bicaraknalah sebuah puisi" kau menunjuk sebuah cinta
yang sudah tak bisa kuhadirkan beberapa malam ini. Di ranjang

"Baiklah, aku sedang ingin mengulum penis, buka celanamu"
Aku mati. Impotensi semua waktuku. Kau memeberi mantra.
Aih mimpi, kau begini pekat. Selayak cinta saja kau berdendang.
Aih harapan, kau begitu terbuka. Aih Perempuan, tutup ini semua.

"Hisaplah darahku ini, tanda kau miliki aku, tanda aku
bagianmu. Tanda tubuhku bukan sekedar toilet nafsumu, bukan
sekedar malam-malam bintang purnama penuh lamunan, bukan
sekedar antologi puisi dan tulisan sastra tempat sundal jadah
eksistensimu yang sama sekali memang tak pantas dipandang"

Akh, aku ingin bantal guling ini jadi sprei yang ikut sunyi. Gelisah
semua instalasi kamar.

Jangan diselesaikan

April 13, 2008

Sudah lima kali kita sendirian
dikejar tawa yang ganjil
yang katanya ucapan Tuhan
berlarian mencari eksistensi
tujuan purba di jauh
bintang-bintang diam
bersama bulan dan perawan
orang-orang memadat
dengan semesta

Tentang sebuah surat

April 8, 2008

Sudah beberapa lama. Rasanya ada rahasia surga di sifat bocah anda.
Saya ingin menikmati. Hingga kadang rasa damba ini memuncak ke seorang cantik bernama pipi.

Baiklah, saya bukan manusia yang peka. Saya hanya miliki tangis dan senyum sinis.
Dan sekarang intensitasnya berkurang. Entah karena saya ingin mencabik-cabik anda.
Mungkin juga nasehat anda begitu berharga.

Aih, perasaan
Sudah kelewat banyak doa dan hafalan. Tidakkah baiknya anda ceritakan.
Matahari panas ini terasa begitu surga bagi anda.

Lagu dalam kamar

April 6, 2008

Tidak ada apa apa. mungkin
kecuali belahan dadamu bangkitkan birahi
di waktu ini. bukankah hanya sepi
meramaikan kita

"BH ini kubeli di amplas, bersama
pria yang menjadikanku kekasih gelapnya"
kata entah yang jujur dari mulutmu. sakit
kau buka jilbabmu. penuh seribu doa yang lusuh

Kau buka celana dalammu. tersenyum sinis
pamerkan vagina yang dirawat tiap hari. tak biasa
ada bekas gigitan. bulu vagina dicukur semua
" agar mudah dimasuki penis yang artinya mereka cepat ejakulasi"

Jilbab di almari kau ambil. kau gunakan
untuk entah di luar sana. dalam kamar ini
kau tetap kelewat pahit. saat tunjukkan sajadah
; "kapan Tuhan ML denganku, dan lalu membayarku dengan hidayahNya"

Empat bait syahranny

April 3, 2008

Untuk seorang perempuan yang tidak saya kenal

Apa kau sedang di kaliurang, teman. Ini malam
sendirian kedinginan oleh hujan. Mungkin nanti
ada darah perawan tergenang. Dan lelaki menawarkan
kesunyian. Rasa kasur dan bujuk rayu.

Apa kau sedang mendebatNya, teman. Hilang tawa
bahagia dan tabir satu per satu. Narasi malam ini
yang kau cari. Di sunyi. Adzan-adzan yang makin sepi
dan doa-doa untuk masa lalu. Sesuatumu.

Apa kau sedang melakukanya, teman. Penuh kepuasan
merebut kematian dan sedikit kehadiran. Sendirian penuh
penyatuan. Telanjangnya hidup begelayutan menyesak
hingga tabir terakhir. Orgasmenya malam kau dapat.

Apa kau sedang berbahagia, teman. Mengalahkan lawan
satu-dua kali hingga kini. Semoga tak ada yang menggigil.
Mungkin engkau tinggal entah. Puisi seindah rambutmu
mungkin. Kau sebenarnya.

Empat bait malam itu

April 2, 2008

entah bagaimana ada bulan
di buah dadanya
aku disiksa percakapan tentang cinta

di sedikit wajahnya yang cahaya
ada ejaan
fitrah apa yang dirasakan untuk bahagia

ada tubuh dibasahi air mata
dan waktu. sepi
berbagi butiran butiran nafas pagi

dan sekarang buah dada menghilangkan bulan
dan resah vagina
dan betingkah. bertingkah. kata-kata perempuan

I

Itulah mengapa aku merasa kau menggoda. Genit birahi
di acara yang disajikan malam. Katamu telanjang. Bayangmu surga
hingga gerimis membuatmu makin berani. Membuka sepi. Mendekap telanjang
mengenang silam dimana vaginamu masih perawan.

Sambil telanjang kau membentang sapu tangan. Untuk air mata
untuk rumah. Kau ingin tempatkan rasa kanakku di sana
agar bisa istirahat dari rahasia dunia. Mungkin sambil bersenggama dengan bulan
sambil telanjang kau membuat doa. Kelamin kita yang sunyi kering. Aih, perasaan

Aih, putaran waktu yang terlalu cepat.
Keriput itu merekah gelisah.

II

Dan kemudian kepadaNya kita berpakaian makna hidup. Penuh perjuangan
yang kita sendiri tahu kelewat pahit. Kelewat sempit. Sebegitu rupa

III

Kau berkiblat ke arah pekat, aku berkiblat ke arah senyap. Tak jauh beda. Kita beragama pada rahasia. Air mata yang kita sendiri tak yakin adalah air mata. Keyakinan kita yang kita sendiri tak yakin apa tepat.
Kau sering menggumamkan sikap pada getar. Sajak dan kembang kembang sekat. Yang selalu meninggalkan jejak. Kisah kisah hatimu di pembaringan rumah. Harapan-harapan yang bergairah, yang menyala-nyala.
Selanjutnya sepi berbincang tentang basa-basi di petang.

Suatu simpang

April 2, 2008

Untuk seseorang

Suatu malam yang mungkin sudah mati. Isi perasaan yang kebanyakan sudah pergi. Lalu suatu kepercayaan dimana perempuan adalah sajak indah.

Sebegitu rupa seseorang memutar-mutar cinta. Hingga malam makin mati. Kabut sepi.

Kemudian aku bangun di siang. Kopi kental sajikan masa lalu.
Engkau berdiri. Sendiri. Menggumam rembulan. Melangkah di seribu ciuman.

Di suatu simpang, seseorang mengajak membicarakan rumah.
Di suatu simpang seseorang. Sajak dedaunan. Aku.