I

Itulah mengapa aku merasa kau menggoda. Genit birahi
di acara yang disajikan malam. Katamu telanjang. Bayangmu surga
hingga gerimis membuatmu makin berani. Membuka sepi. Mendekap telanjang
mengenang silam dimana vaginamu masih perawan.

Sambil telanjang kau membentang sapu tangan. Untuk air mata
untuk rumah. Kau ingin tempatkan rasa kanakku di sana
agar bisa istirahat dari rahasia dunia. Mungkin sambil bersenggama dengan bulan
sambil telanjang kau membuat doa. Kelamin kita yang sunyi kering. Aih, perasaan

Aih, putaran waktu yang terlalu cepat.
Keriput itu merekah gelisah.

II

Dan kemudian kepadaNya kita berpakaian makna hidup. Penuh perjuangan
yang kita sendiri tahu kelewat pahit. Kelewat sempit. Sebegitu rupa

III

Kau berkiblat ke arah pekat, aku berkiblat ke arah senyap. Tak jauh beda. Kita beragama pada rahasia. Air mata yang kita sendiri tak yakin adalah air mata. Keyakinan kita yang kita sendiri tak yakin apa tepat.
Kau sering menggumamkan sikap pada getar. Sajak dan kembang kembang sekat. Yang selalu meninggalkan jejak. Kisah kisah hatimu di pembaringan rumah. Harapan-harapan yang bergairah, yang menyala-nyala.
Selanjutnya sepi berbincang tentang basa-basi di petang.

Leave a Reply