Akhirnya aku merasa juga
Luka perempuan yang kau simpan
Tujuan bodoh kematian
Penuh gambar senyap
Penuh luka ombak
Bersidekap
Pun cinta tak sempat
Memintal bulan tanah
Riang dan malam yang goyah

Lentik bunga mengirim jalan
Lilin kecil memesan waktu

Aksara dalam suara
Kemana benua surga kita
Langit mengerang jasad
Leluhur masih menyayat
Kemenyan-kemenyan sejarah
Rinduku birahi narasi kudus
Musim biru amsal kelam
Syahwatku basah darah
Selalu saja bayang perawan

Yang merah
Merogoh sisa genderang
Udara jatuh dan kitab dedaunan

Ada airmata ditinggal arah

Rindu #4

July 1, 2008

Handphone yang heranya sepi. Ruang lengang
meneriakkan kenangan. Puisi untuk kekasih yang mayat
dalam kemasan sisa kecupan bibir dan bir. Sendirian
kau berkelahi dengan nyamuk dan handphone. Gaduh

bayangan gadis bernafas pemburu

Melamun di situ
"kekasihku mabuk
padahal tubuhnya
adalah pengap yang lugu "

(Belum nemu judul)

July 1, 2008

Mungkin engkau mengajakku sembunyi. Di lubang
galian Jepang selama tiga bulan. Kita bercinta
secara kasar. Penismu kumasukkan ke vaginaku dan melenguh
sambil membawa kesumat milik agama. Dan ekstase lagu cinta
milik jiwa kita. Mungkin hanya ruang kamar dan angan kanak
tentang luasnya surga dan baiknya Tuhan.

Agar ibu tak menjadikan batu sebagai hatinya yang baru

kita pun suatu saat pasti menyusun rumusan bahwa rindu
begitu absurd. Jika memang benar hiruk-pikuk ini adalah bayangan
paling jelas dari gambaran nyanyian kita. Adalah wangi di deretan
batu-batu hitam dan sedikit matahari. Kita menyangga jarak
dan kehidupan lama biarlah tumbal. Kita kaum gelisah yang
kebanyakan, bukan?

Ah, kita dengan ikhlas terdampar di teriakan luka. Bisikan
paling cinta sudah kita acuhkan. Kita bahagia atau menderita.
Kita cuma dendam pada hampa. Dan ibu sebagai salah satu
bagian merepotkan saat kita pindah pemahaman. Ibu harus dibunuh.
Dunia mungkin kembali utuh. Segalanya tak perlu dirubuhkan
satu-satu lalu dibangun kembali satu-satu. Batu pun tak perlu
dijadikan metafor lucu untuk hati ibu. Lubang Jepang mungkin
sekedar rekreasi fantasi kita.

Ibu harus dibunuh. Dunia mungkin kembali utuh. Segalanya
tak perlu kembali abu-abu.

Dan engkau kekasihku, godalah tubuhku menikmati rahasia kamar
ibu.

Sajak gagal

July 1, 2008

I/
Kukabarkan wajahmu pada luka
Rambut hitam, wajah coklat, senyum penuh
Sebuah impian bisu yang surga
Dan aib bergelegak

Jika kemudian kita berlari. Harus sendiri
Mungkin malaikat mati dan kita sunyi
Duhai rambut hitam, wajah coklat, senyum penuh

II/
Kukabarkan wajahmu pada malam
Rambut legam, wajah cahaya, senyum lagu
Sebuah sajak yang cinta
Dan jejak berhamburan

Andai kita membicarakan bulan bintang
Bisakah mitos-mitos konyol kita hancurkan
Duhai rambut legam, wajah cahaya, senyum lagu

III/
Kukabarkan wajahmu pada jalanan
Rambut wangi, wajah hangat, senyum ibu
Sebuah renungan yang senyap
Dan perih berperistiwa

IV/
Lalu mungkin saja kita mendengar suara rumah
Sungguhkah kita tidak gagap dibicarakan kodrat
Duhai rambut wangi, wajah hangat, senyum ibu
Kukabarkan wajahku pada waktu

Pagi dan fragmen

July 1, 2008

Sendiri pagi mendekati
Kelopak bunga di mimpi
Kebun surga milik matamu

Dan kupandang malaikat
Mengatur dawai subuh
Dan perempuan pasar
Membawa munajat kubur

Mungkin ini pagi penyair
Di negri cinta indrian
Dan sukma semacam rindu
Mendamba hangat sajak

Senyum-senyum yang dari dulu disampaikan leluhur

Tidak hilang di awan
Oh, bidadari-bidadari
Pagi mendekati. Sendiri
Membawa surga ke sepi

Diam

July 1, 2008

hujan begerimis dan cahaya
bertapa di alam matamu
membawa sekian pesan
alam raya senyuman

yang tidak sempat berjudul
bahagia. mungkin sekali
kasih pernah
menghilangkan dunia

dalam kata cinta. dalam kata jasad
saat itu kita terbahak