Terkapar
September 30, 2008
Sifat-sifat kudus dari duka
Menyeret wajah ke gelap
Sajak dan gaib air mata
Menjalin hasrat basah
Kesederhanaan jasad tubuh
Tak jua menjadi sunyi
Tak juga ada sentuhan
Dari Maria yang mengkuduskan luka
Tak juga ada pelukan
Dari musim semi yang menasbihkan rindu
Cinta
September 30, 2008
I
Cinta ini membawa dunia
Mengerti biru air mata
Dan sesal langkah
II
Cinta ini
Terbawa dunia
Menjejakkan luka
Tiga hari untuk ode luka
September 21, 2008
1/
tiap udara membawa
langit ibu hawa
dan dunia di celah mulutmu
2/
saat waktu menyusut
luas naif matahari
menyakiti segenap ibu
3/
diam luruh
dekapan rumah
di langit tinggi
Amsal dangdut
September 21, 2008
Mungkin lebih sekedar ingin mengutukmu saat kau tarik rambutku seakan aku adalah kucing kecil tak tahu diri. Lalu mengata-ngataiku sekan aku anjing murahan milik tetangga. Seringnya saat itu aku ingin kau tahu, aku lebih suka kau anggap seperti boneka babi pink yang menemanimu tidur.
Dan begitulah setiap kita memainkan mulut dan kata kata (dan mungkin hati), seakan kau tahu aku adalah lakilaki menjijikkan di pinggir got.
Lalu sekan tak ada sesuatu lain selain musik dangdut sebagai pelarianmu. Sebagai gantiku.
Kesimpulan setelah membaca surat seorang lelaki pada kekasihnya
September 21, 2008
Kami sering berbincang tentang luka itu. Aku berharap tidak ada yang terselesaikan. Agar kami masih dapat berbicara terus-menerus. Aku mencintainya sebagai teman debat di warung makan. Terutama saat jam tiga sore. Dan tentang luka yang kami bahas, seringnya malah menimbulkan luka baru, semacam tamparan, cacian, siraman es jeruk atau segenggam nasi yang dilempar ke wajah. Kami sering keterlaluan jika berdebat.
Kami sering berbincang tentang luka itu. Aku berharap luka itu makin bertembah parah. Agar suatu hari nanti hatiku makin terluka dan cepat mati. Kami sering berbincang tentang luka itu. Ibunya yang telah meninggal pernah dia khayalkan sedang menjahit luka itu menjadi syal tenun yang dia berikan padaku. Aku pun pernah memberinya sebuah buku bersampul vanilla kegemaran ibunya. Kami sering membicarakan luka itu hingga suatu hari dia melahirkan.
Kami masih sering membicarakan luka itu seandainya saja anak yang dia lahirkan menjadi teman baik ayahku.
Suara tangis
September 21, 2008
Kau dengarkan lagu di sumbang dendam
Sebelum ada takut
Kuping kita berdarah kesumat cinta
Menghabisi lirik-lirik penyesalan
Dan bunyi sunyi
Dijemput paduan kering suara tangis
Rindu #5
September 21, 2008
Alangkah kenangan adalah batas
Serupa darah dan rumah
Melukis senyap bebunyian nyawa
Mengalahkan lengking rindu
Sungguhkah rahimmu sebentuk surau
Tempat suci malaikat dan ayat puisi
Kusesap khidmat harapan tubuhmu
Dan sajak-sajak segala penghabisan
Dan khayalan tentang ibu
Dan jagat rayaku yang mabuk
Yang belum sempat dibuang
Dari kepalaku dan rahim itu
Mungkin batas yang mengutuk
Air mata di dalam pikiranmu
Sajak kanak
September 21, 2008
Engkaulah lelaki kecil itu. Yang sendirian
membuka dongeng naruto
Dan imaji panjang penghuni rumah. Dan pagi
Masih ingin kau beri senyum nakal kebebasan
Saat ibu menuju gelisah semesta
Hai, anak dari sajak dan rapalan doa
Lukislah rahim ibu dengan sehabis-habisnya hidup
Mungkin juga perlu kau rangkul kasih kitab junjungan
Pujalah kehebatan dunia. Agar lelakimu paham
Tak mudah patah oleh wanita
Saat luapan sejarah sudah memangsa dongengmu
Atau mungkin teriakanmu terbang ke ikatan rumah
Kau masih bisa merasa kanak di sendiri yang samar