Awal sajak perempuan

October 4, 2008

I/
Ada tiga perempuan yang saling meratapi diri
Duduk sambil membaca puisi aspahani

Ada tiga pasang mata yang mengeluarkan air mata
Menangis oleh lelaki yang begitu tampan

Ada tiga perempuan yang menciptakan puisi
“Puisi adalah hasil meditasi dari emosi”

II/
Ada tiga perempuan membawa luka
Dan angan tak bisa menakar
Betapa luka begitu basah

Ada tiga perempuan meredam harap
Dan sungguh sepi begitu rapi
Menghasilkan penyesalan

Ada tiga perempuan mengucap sabda
Dan doa agar gairah
Sekedar menjadi sajak

Sejumlah kalimat lebaran

October 3, 2008

Ketupat dan opor ayam yang kemaren dimasak nenek sudah habis. Tinggal beraneka minuman untuk menemani air mata. Dan layar televisi memamerkan jika lebaran adalah komedi, maka tertawalah. Kemudian mungkin ada malaikat turun menawarkan kesucian surga, mungkin juga menawarkan kelicikan iblis. Untuk dosa yang terhapus dan pahala yang terbalas, adikku memberi sebatang Conello. Dan tertawalah iblis. Dan bergembiralah malaikat. Pagi ini begitu mudah menghasilkan air mata. Pagi ini tetap membawa luka. Pagi ini begitu pahala berlimpah. Dan di dadaku ada lagumu.

Aku berdendang dengan mulan kwok. Di sisiku ada kue kering buatan teman (padahal aku rindu kekasih). Sirup, kopi, teh, yogurt, susu, air putih dan air siwalan. Kemudian televisi menasihkan bahwa bulan syawal adalah bulan suci. Aku yang tergeletak sendiri. Inilah bajuku yang paling bagus, berwarna hitam dan lengan panjang. Dan celana kain yang kusimpan dari setahun kemarin. Sambil ditertawai sprei dari bali aku memandang lekat bingkai jendela. Ada Allah, ada ibu, ada rindu.

Makin menyerah

October 3, 2008

Seluruh hidup adalah kesedihan
yang harus ditertawakan. Kita
terburu oleh waktu. Maukah kita
menatap perstiwa sambil tertawa.

Seluruh hidup adalah bagaimana
beban dikerahkan jadi rindu. Lembut
kecup ibu dan rumah. Sampai perasaan
hanyalah waktu-waktu baru untuk rindu.

Seluruh hidup adalah arah pada batas
yang pantas dinyatakan oleh cinta.
Dan basah ungkapan adalah kita
yang makin menyerah

Di malam

October 3, 2008

Awal bulan ini
Terbayang riwayat rindu
Yang hanyut
Percakapan sepi
Dengan munajat purba

Aku merasa kehilangan jantung
Sebab diam-diam aku pergi
Menuju permainan sejarah
Rumah dan kehilangan

Sudah terlalu lama aku memilah
Antara Tuhan dan khidmat khayalan
Sudah terlalu jauh aku terbentuk
Oleh takut dan ratapan musuh

Awal bulan ini
Membawa apa yang hilang
Menjadi cinta
Dan hiruk-pikuk suara
Batin dan garis takdir
Bagai sekawanan kata
Dalam puisi

Arah yang entah

October 3, 2008

Dengan sepi yang berdatangan
Dengan perempuan yang memabukkan
Seluruh perasaan yang tak sadar
Dengan malam yang dingin

Dengan arah yang entah