Sajak telaga
November 23, 2008
Aku mempercayai cinta yang diam-diam
Membuatku sengaja memberi wilayah kosong tubuhku
Untuk dijadikan telaga yang dihuni ikan
Dan yang siap dikotori sampah para pelancong
Aku mempercayai cinta yang masuk
Ke matamu lalu mengucapkan deretan peristirahatan,
Rerimbun pinus dan dongeng epik sepasang kekasih
Mati tenggelam bunuh diri dalam telaga
Dan kau tentu tahu betapa cinta jugalah
Yang menggodaku memasuki ceritamu
Aku masih mempercayai cinta walaupun ia bosan
Melihat senyummu mengalahkan terang lampu.
Sebab cemburu itu ia ciptakan purnama, kopi hangat,
Serta aroma menggoda parfum dari mulus tubuh pelacur
Aku masih mempercayai cinta walaupun tak henti-hentinya
Ia membatku menjadi kekanakan;
Terus memintamu membuat hujan untuk mengisi telaga
Sambil tetap bercerita dongeng-dongeng indah
Agar para pelancong tetap setia berpasangan
Menikmati telaga dalam rerimbun pinus
Di malam yang berpendar-pendar cahaya senyum
Hujan di malam minggu
November 23, 2008
Mengingatkanku pada sebuah lagu di zamanmu
dan mulutmu yang penuh pelangi dan selimut.
Sendirian tubuhmu kekal di ingatanku pada hujan.
Mendesak pendingin ruangan ke pojok gelap sambil
mematikan persitiwa sedih tentang kemarau.
Di tempat tidurku kau sisakan bercak airmata
“airmata adalah sumber mata air” puisimu membawaku.
Kuping (rindu #6)
November 23, 2008
Kesal yang kau timbun di kupingku
Sudah penuh dan berbau busuk
Kotoran dan peluh keringat pemulung
Lengkap dengan lalat-lalat sesalku
Kini kupingku menakutiku dengan sampah
Sampah baru berupa selimut dan reruntuhan rumah
Yang dulu kau buat sebagai penghangat
Saat hangat lenyap oleh gigil sedih pekat
Mungkin kupingku sudah seluas bantar gebang
Busuknya rindu dan sesal selalu bertanya
Tentang program daur ulang
Atau solusi lain, mungkin memendamnya
Di ceruk kosong perasaanku. Sekalian
Menjadi kompos bagi kesuburan sabarku
Setidaknya bisa jadi pelngkap indah ceritamu
Di kupingku kau kenal betul aneka sampahnya
Aku sendirilah yang membuang emosi tidak pada tempatnya
Dan kau kesal. Aku mengartikanya sampah-sampah baru
Aku salah, lalu cuma bisa menyesal, sambil berdoa semampuku
Kau datang membawa cotton bud dan hatimu
Menganalisis kupingku, memberi nasehat semacam dokter THT
Agar kupingku kembali jadi tetaman kata yang lebat perasaan cinta
Bertemu orang tuamu
November 23, 2008
Inilah kesempatan kita bicara pada orangtuamu. Aku ingin mengisi rahimmu dengan cintaku. Hatiku sudah selesai kurampungkan jadi rumahmu. Selain untuk pekerjanku, waktuku sudah siap kau habiskan. Pun sudah kurampungkan hapalan surat Qur’an untuk persiapan jadi imam sholatmu. Apalagi hanya sekedar uang nafkah, sudah kusiapkan dengan persiapan paling matang.
Mari bertemu orang tuamu. Kita katakan betapa kursi pelaminan adalah hal yang indah. Kita tunjukkan jika kita berdua mewarisi cinta adam-hawa. KIta hadirkan hangat gelora kita, agar mereka tersenyum penuh hati, lalu merestui kita. Dan tekankan jika memang tak ada kado terindah selain restu dan pelaminan.
Aku sudah sepenuhnya siap menghadapi pertanyaan dan segala bentuk nasehat. Aku sudah sepenuhnya ingin menikahimu dengan kata cinta.
Di gereja Santo Antonius
November 23, 2008
Di gereja Santo Antonius. Kudengar
Mazmur dan kidung suci hari minggu
Agungkan martir agama yang utuh. Cinta dan perawan
Suci menyilaukan. Membawa cahaya dunia
Di minggu gereja yang kudus
Langkah kakiku dituntun
Senyum umat. Lelaki tua
Yang membawa salib di pikiranya
Seperti sepasang malaikat
Pembawa wahyu menyambutku
Aku datang kepada Isa
Dan ibunya, sang perawan. Kubawa doa-doa
Luka dan pahitnya darah. Inilah jiwa-ragaku
Oh gemerisik bambu,
Hantarkan aku pada kemurnian kasih
Di gereja Santo Antonius
Dan dzikir kebesaran Allah
Sajak terputus
November 23, 2008
Sebelum mendung dan hujan
Kesedihanmu membasahi perasaanku
Sapalah sejenak jalanan yang abu
Dan merah pudar trotoar kehidupan
Lalu kemudian tenggelamkan aku
Deras kata dan makianmu itu
Menjadikanku serupa kucing
Yang ditinggal perahu Nuh
Lengkap dengan waktu
Yang menggerus