Abu-abu
May 9, 2009
Kenapa aku selalu terbayang kau meniduri seluruh gelisah. hingga kau pernah menelantarkan isyarat dan dosa-dosa di dalam payudara.
Kenapa setelah kesakitan dan beragam endapan, tak pernah kau henti ia melihat senggama hujan. di dunia yang belum disebut dalam sajak, bukankah mimpi semacam rumah yang penuh khianat.
Kenapa suara ibu dan hingar kampung sempat melintang ruang. sedang tak pernah kau gagap meritus nafsu dan karat tusukan.
Kenapa waktu kau anggap pintu. di baringan malam dulu kita menegang takut sebab pertemuan melarung isi kehilangan. kutahu kau meniscayakan rindu maupun tubuh yang menumbuh reruntuhan. kenapa waktu kau anggap pintu.
Gumpalan
May 9, 2009
sepertinya aku berharap saja pada apa yang sempat kau katakan
kau kelelahan mengajariku membacakan cinta atau
mengukur detak nadi dan membandingkan denganya
padahal di kakiku masih kurasa gemetar perjalanan
aku membaca kekecewaan, mendahuluimu
dan masih saja marahmu tak bisa kubaca
sesekali aku ingin menyesatkanmu ke hiruk pengap
berharap kau memohon pada Tuhan menjadikan aku suami
atau kau ikhlaskan aku jadi pemilik sehektar wilayah di lubukmu
kadang makian memberi alternatif jalan terbaik
dan kukira ada saat-saat kau masuk ke waktu, mengukur lembab hujan
yang tak henti membasah ruang, mengikat malam;
mensiagakan aku berpikir surga dalam keliaran
Catatan di jalan
May 9, 2009
Aku tak mungkin mengasingkanmu di pojokan
Tak mungkin aku bisa lepaskan ingatan
Rambut rebondingmu benar-benar menggoda
Percintaan kecil yang kuharap
Walau cemas aku akan warna pink
Di lipglossmu, aku rasai senyum anakmu
Mengeja kekuatan tubuhku untukmu
Aku sungguh ingin menata keasingan
Sepeda anakmu menjadikan kepalaku lapangan
Pembantumu merusak kupingku dan menaruhnya di kolong kasur
Ibumu menceramahiku tentang ibadah haji
Temanmu yang menertawaiku penuh kemenangan
Bahkan kadang aku penasaran apa kau tahu bagaimana sinyal HP
Sepanjang jalan pulang. Sepanjang kau buatkan aku rahasia jakarta
Aku kebingungan dengan keasingan. Sungguh
Hidup terasa hanya bagaimana merayu bulan
Dan melihat perempuan. Di jalanan, siang-malam
Ada istilah “love will find the way”