Gumam #1
July 2, 2009
segeralah berikan suaramu di kupingku
sebab badan sudah perih dengan sajak
Siklus
June 26, 2009
seandainya hujan menjadikanmu lembut
seperti langkah-langkah air ke sungai
seperti payudaramu yang tak besar-kecil
aku tinggal membenahi rindu di cintamu
seandainya jendela menyinarimu dengan senja
tak ada retak-retak atau kecemasan dalam kamar
atau pikiran bagaimana mesti hidup bahagia
tentu sudah kusudahi tubuhmu yang membentuk malam
seandainya bulan sabit adalah bahan tertawa kita yang baru
dengan segera kutemui kejujuran, dengan suara ibu
aku yakin memilih siapa saja yang masuk percakapan kita
untuk mengurai masa depan dan membantu membangun rumah
seandainya bintang benar bersinar di wajahmu
segala tempat dan halaman hanya tahu tentang kenangan
dan bunga mawar di sekitar bandara menyebut-nyebut waktu
sebagai prosa sebelum kita rayakan perpisahan
Silsilah kesalahan
June 14, 2009
I/
aku rindu membawakan sekantong kado
yang dipenuhi tubuhmu. sedang pagi yang tak hancur
menanar ingatan untuk sekedar menjadikanku tumbal
(dan tak ada hari tanpamu di sana)
tentu di bayanganmu aku menggambar-gambar
bentuk hati dan celengan kerbau
sambil mengemas ucapan musim
di depan jendela
II/
andai kau masih cemas tentang jumlah selimut
yang kita lipat dengan sekarat
sudah kusiapkan gemerincing malam
yang menasbihkan kepergian dengan bau melati
di sepanjang kesunyianmu pun sudah ada ruang
yang akan terus mensucikan tubuhmu
sebab semacam hujan, jarak adalah kesalahan Tuhan
yang terus-menerus kita anggap indah
Melankoli St. Anna
June 14, 2009
Santa anna, bunda pengasih, aku datang dengan sekantong uang
untuk ekaristi yang kuminta darimu
untuk senja dan dingin kipas angin
untuk kopi dan pandangan riuh
untuk kasih yang menjebak
Santa anna, aku datang dengan sekantong cerita
sekerat roti dan lapangan parkir
dan bayangan bulan malam gentar
menuju mimpimu
sebab usia kami belah setahun lalu.
Dan tak mungkin kami catat di KUA
Abu-abu
May 9, 2009
Kenapa aku selalu terbayang kau meniduri seluruh gelisah. hingga kau pernah menelantarkan isyarat dan dosa-dosa di dalam payudara.
Kenapa setelah kesakitan dan beragam endapan, tak pernah kau henti ia melihat senggama hujan. di dunia yang belum disebut dalam sajak, bukankah mimpi semacam rumah yang penuh khianat.
Kenapa suara ibu dan hingar kampung sempat melintang ruang. sedang tak pernah kau gagap meritus nafsu dan karat tusukan.
Kenapa waktu kau anggap pintu. di baringan malam dulu kita menegang takut sebab pertemuan melarung isi kehilangan. kutahu kau meniscayakan rindu maupun tubuh yang menumbuh reruntuhan. kenapa waktu kau anggap pintu.
Gumpalan
May 9, 2009
sepertinya aku berharap saja pada apa yang sempat kau katakan
kau kelelahan mengajariku membacakan cinta atau
mengukur detak nadi dan membandingkan denganya
padahal di kakiku masih kurasa gemetar perjalanan
aku membaca kekecewaan, mendahuluimu
dan masih saja marahmu tak bisa kubaca
sesekali aku ingin menyesatkanmu ke hiruk pengap
berharap kau memohon pada Tuhan menjadikan aku suami
atau kau ikhlaskan aku jadi pemilik sehektar wilayah di lubukmu
kadang makian memberi alternatif jalan terbaik
dan kukira ada saat-saat kau masuk ke waktu, mengukur lembab hujan
yang tak henti membasah ruang, mengikat malam;
mensiagakan aku berpikir surga dalam keliaran
Catatan di jalan
May 9, 2009
Aku tak mungkin mengasingkanmu di pojokan
Tak mungkin aku bisa lepaskan ingatan
Rambut rebondingmu benar-benar menggoda
Percintaan kecil yang kuharap
Walau cemas aku akan warna pink
Di lipglossmu, aku rasai senyum anakmu
Mengeja kekuatan tubuhku untukmu
Aku sungguh ingin menata keasingan
Sepeda anakmu menjadikan kepalaku lapangan
Pembantumu merusak kupingku dan menaruhnya di kolong kasur
Ibumu menceramahiku tentang ibadah haji
Temanmu yang menertawaiku penuh kemenangan
Bahkan kadang aku penasaran apa kau tahu bagaimana sinyal HP
Sepanjang jalan pulang. Sepanjang kau buatkan aku rahasia jakarta
Aku kebingungan dengan keasingan. Sungguh
Hidup terasa hanya bagaimana merayu bulan
Dan melihat perempuan. Di jalanan, siang-malam
Ada istilah “love will find the way”
Kami menanti saat engkau menawarkan percakapan
February 5, 2009
Kami mengetik terus menerus, dengan kata-kata yang paling manis. Layar tak henti kami lihat, tak henti kami harap. Kami ketakutan, mengapa diam jadi bahasa paling seram. Kami menanti, ingin melegakan perasaan; saat dulu adalah waktu buruk atau campur aduk, perasaan lelaki kami benar-benar kalah. Kami menanti saat engkau menawarkan percakapan. Kami menyangka kau masih punya beberapa kata. Walau kami paham saat kau jelaskan amarah. Kami menyangka kami masih bisa menanti saat engkau menawarkan percakapan. Kami mengetik terus menerus, dengan harapan-harapan paling manis. Kami menghapus semburan kata-kata, menulis ulang, berharap manis ulang, bersedih ulang; kami selipkan kerut cemberut dan senyum.
Sentimentil untuk hujan
February 4, 2009
Hujan kenangan
Masuk ke hati bumi
Tumbuhkan pepohonan perasaan
Menjagamu terus menjadi kenangan
Mitos rambut
February 4, 2009
Dari rambutmu mungkin
Cerita-cerita mitos
Bermunculan, menggenang
Menjaga malam tetap dingin
Agar kau bisa beri aku selimut
Dari wangi rambutmu